Penemuan kerangka manusia berusia 700 tahun di reruntuhan Stirling Castle, Skotlandia, diidentifikasi sebagai korban pertama dari penggunaan senjata kepung trebuchet dalam sejarah arkeologi. Kerangka yang diberi label Skeleton 150 tersebut merupakan seorang pria berusia 20-an yang tewas akibat hantaman masif pada masa pengepungan kastil sekitar 700 tahun lalu.
Berdasarkan studi yang dipresentasikan pada pertemuan Paleopathology Association di Berlin, peneliti menemukan bahwa pria tersebut menderita lebih dari 160 fraktur peri-mortem di sekujur tubuhnya, mulai dari tengkorak hingga lutut. "Meskipun penggunaan mesin pengepungan terdokumentasi dengan baik, kami yakin ini adalah bukti pertama trauma trebuchet dalam catatan arkeologi," ungkap para peneliti dalam laporan tersebut.
Para arkeolog meneliti total 9 kerangka yang ditemukan di Stirling Castle untuk mencari bukti trauma dari periode Perang Kemerdekaan Skotlandia yang berlangsung antara 1296 hingga 1328 serta 1332 hingga 1357. Kastil tersebut tercatat pernah dikepung pada 1304 oleh Raja Edward I yang mengerahkan mesin pengepung masif, termasuk trebuchet legendaris bernama War Wolf.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeCatatan sejarah menunjukkan bahwa trebuchet setinggi 300 kaki tersebut membutuhkan waktu 3 bulan pengerjaan oleh 5 master tukang kayu dan 50 buruh dengan kemampuan melontarkan proyektil seberat 140kg. Analisis menggunakan radiografi, mikroskop, dan pemindaian CT X-ray membuktikan bahwa 61 fraktur pada tengkorak serta 57 pada tulang rusuk korban berasal dari hantaman tumpul berkecepatan tinggi.
Analisis Forensik Ungkap Hantaman Tunggal Berkecepatan Tinggi
Pola patahan pada tulang Skeleton 150 menunjukkan bahwa proyektil trebuchet menghantam bahu kanan serta bagian belakang tengkorak korban secara bersamaan. "Perbandingan dengan kasus forensik menunjukkan trauma ini hasil dari satu dampak berkecepatan tinggi, mungkin pada individu hidup dengan lengan bawah tertekuk di depan tubuh," kata peneliti Jo Buckberry dan Patrick Randolph-Quinney.
Awalnya, tim peneliti mendapati dugaan bahwa tulang-tulang tersebut mengalami kerusakan setelah dikuburkan akibat tekanan tanah. Namun, hasil pemindaian mendalam berhasil mengonfirmasi bahwa seluruh fraktur terjadi ketika korban masih hidup dalam insiden pengepungan brutal.
Temuan ilmiah ini menegaskan tingkat kekejaman peperangan abad pertengahan sekaligus pentingnya pencatatan trauma pada kerangka kuno. Walaupun pola cedera sangat identik dengan serangan trebuchet War Wolf, peneliti belum dapat memastikan secara mutlak karena ketiadaan kasus pembanding dari periode waktu yang sama.
Penelitian mendalam terhadap kerangka bersejarah di Stirling Castle terus dikembangkan oleh para ahli untuk mengungkap detail taktik militer masa lalu. Kasus Skeleton 150 kini menjadi tonggak penting dalam studi paleopatologi untuk memahami dampak destruktif dari senjata pengepungan abad pertengahan.