Jauh sebelum kecerdasan buatan visual mendominasi ponsel pintar saat ini, Google sempat memperkenalkan sebuah aplikasi inovatif bernama Google Goggles. Perangkat lunak pengenalan gambar ini memungkinkan pengguna melakukan pencarian informasi hanya dengan membidik objek menggunakan kamera perangkat genggam mereka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pertama kali dikembangkan untuk sistem operasi Android, aplikasi ini menawarkan kemampuan canggih seperti mengenali bangunan bersejarah, memindai barcode produk, hingga menerjemahkan teks tercetak. Bahkan, aplikasi ini sempat diandalkan untuk memecahkan teka-teki angka seperti Sudoku langsung dari bidikan foto.
Dalam catatan pengembangannya, Google sempat memiliki ambisi besar menjadikan teknologi ini sebagai platform aplikasi mandiri yang masif layaknya Google Maps. "Kami ingin Goggles menjadi sebuah platform aplikasi yang luas," ujar Product Manager Google, Shailesh Nalawadi, menggambarkan visi besar di balik peluncuran perangkat lunak tersebut pada masa awal pengembangannya.
Seiring berjalannya waktu, adopsi teknologi visual mengalami lonjakan pesat hingga akhirnya Google memperkenalkan penerus yang jauh lebih canggih berbasis kecerdasan buatan, yakni Google Lens. Kehadiran teknologi baru yang terintegrasi dengan Google Assistant membuat eksistensi Goggles mulai tergeser secara perlahan dari panggung utama industri aplikasi.
Titik akhir perjalanan aplikasi pionir ini akhirnya tiba ketika pembaruan terakhir dirilis pada Agustus 2018. Pengguna yang membuka aplikasi tersebut secara otomatis diarahkan untuk beralih menggunakan Google Lens atau Google Photos, sekaligus menutup buku sejarah era awal inovasi pemindaian visual berbasis ponsel.