Layanan komunikasi video besutan Google, Google Meet, telah melalui perjalanan yang panjang dan penuh dinamika sejak pertama kali diperkenalkan ke publik. Kehadirannya tidak bisa dilepaskan dari strategi besar raksasa teknologi tersebut dalam merombak total ekosistem komunikasi mereka, termasuk menggantikan posisi Google Hangouts dan melebur bersama Google Duo.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pada awal kemunculannya di tahun 2017, aplikasi ini dirancang khusus sebagai perangkat penunjang kalangan bisnis dan enterprise dengan kapasitas peserta terbatas. Namun, peta jalan tersebut berubah drastis ketika pandemi COVID-19 melanda dunia pada awal tahun 2020, memaksa Google membuka akses layanan ini secara gratis bagi seluruh pengguna secara global.
Lonjakan pengguna pun terjadi secara masif dalam kurun waktu yang singkat seiring meningkatnya kebutuhan bekerja dan belajar dari rumah. Berbagai fitur canggih yang sebelumnya hanya bisa dinikmati oleh pelanggan berbayar Google Workspace sempat dibuka secara luas untuk membantu masyarakat beradaptasi dengan kebiasaan baru.
Tidak berhenti di situ, langkah konsolidasi terus dilakukan oleh perusahaan hingga akhirnya memutuskan untuk menggabungkan aplikasi Google Duo ke dalam platform Google Meet. Transformasi ini menyatukan berbagai fungsi panggilan video dalam satu atap yang dapat diakses melalui perangkat seluler, komputer, hingga berbagai perangkat televisi pintar.
Dari sisi teknologi di balik layar, layanan ini mengandalkan standar WebRTC untuk kompresi video dan audio berkualitas tinggi serta teknologi kecerdasan buatan untuk efisiensi jaringan. Dengan berbagai pembaruan yang konsisten, platform ini terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu sarana komunikasi digital paling diandalkan di berbagai belahan dunia.