Dunia pengembangan aplikasi tentu sudah tidak asing lagi dengan Firebase, sebuah platform cloud computing dan backend yang kini menjadi andalan para developer. Namun, sedikit yang tahu bahwa layanan canggih ini berawal dari sebuah startup kecil di San Francisco yang didirikan pada tahun 2011 oleh James Tamplin dan Andrew Lee.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Awalnya, perusahaan rintisan tersebut bernama Envolve dan berfokus menyediakan API untuk fitur obrolan online di dalam situs web. Seiring berjalannya waktu, para pendiri menyadari bahwa kode mereka digunakan oleh developer untuk menyinkronkan data aplikasi lain secara real-time, seperti status permainan, di luar fungsi obrolan semata.
Melihat potensi besar tersebut, Tamplin dan Lee memisahkan sistem obrolan dengan arsitektur data real-time, yang kemudian melahirkan produk andalan pertama mereka, Firebase Realtime Database. Layanan ini sukses menarik perhatian para investor ventura dan berhasil mengumpulkan pendanaan awal untuk mempercepat pertumbuhan bisnis mereka.
Tonggak sejarah penting terjadi pada Oktober 2014 ketika Google secara resmi mengakuisisi Firebase. Di bawah naungan Google, platform ini berkembang pesat menjadi Backend-as-a-Service yang terintegrasi dengan berbagai layanan Google Cloud lainnya, menjadikannya salah satu pilar penting dalam ekosistem pengembangan aplikasi global hingga saat ini.