Seorang wanita berusia 54 tahun di New York menghadapi dilema berat setelah berniat meninggalkan tunangannya yang memiliki masalah amarah akut serta kecanduan alkohol. Hubungan yang telah berjalan hampir 5 tahun tersebut mulai merusak kesehatan fisik dan mentalnya secara drastis sejak pertama kali terhubung kembali dengan teman masa kecilnya yang bernama Neil.
"Saya merasa sengsara dan ingin pergi, namun kami sudah bersama hampir 5 tahun dan saya tidak ingin menyakitinya lagi serta anak-anak perempuannya yang berusia 11 dan 13 tahun," ungkap wanita tersebut dalam kolom konsultasi Dear Abby.
Kondisi kesehatan wanita yang memiliki riwayat gangguan bipolar itu semakin memburuk akibat stres tingkat tinggi, yang memicu gangguan lambung, penurunan berat badan, hingga penyakit kulit psoriasis. Ia juga mengkhawatirkan kondisi anak perempuan bungsu pasangan tersebut yang sedang menjalani terapi untuk depresi dan kecemasan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKolumnis Dear Abby menyarankan agar wanita tersebut segera mengganti terapis pribadinya dan berhenti mencemaskan kondisi sang tunangan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan bertahan. Ia juga diingatkan bahwa anak-anak tersebut bukanlah tanggung jawab utamanya demi memulihkan kesejahteraan hidupnya.
Saran Ahli untuk Keluar dari Hubungan Toksik
Dalam tanggapan lanjutan terhadap surat pembaca tersebut, para ahli hubungan menyarankan agar wanita itu menghadiri pertemuan Al-Anon untuk memahami masalah kecanduan. Langkah ini dinilai penting agar ia menyadari bahwa perilaku destruktif sang tunangan berada di luar kendalinya.
Apabila lingkungan rumah tidak lagi stabil dan sehat bagi perkembangan anak-anak, keputusan untuk pergi dengan penjelasan baik-baik kepada mereka menjadi opsi terbaik. Komunikasi jujur bahwa perpisahan tersebut bukan kesalahan anak-anak harus disampaikan sebelum ia melangkah pergi.
Kasus hubungan toksik ini menyoroti pentingnya batasan personal dalam sebuah ikatan pertunangan ketika masalah psikologis dan kebiasaan buruk mulai mendominasi keseharian. Tekanan emosional yang berlarut-larut terbukti mampu menggerogoti kondisi fisik seseorang secara nyata.
Melalui panduan profesional, para korban hubungan tidak sehat didorong untuk memprioritaskan keselamatan diri sendiri sebelum mengurus permasalahan orang lain.