Musim kemarau tahun ini terasa sangat berat bagi warga Kemesu, Semugih, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. Bukan hanya kesulitan mencari air bersih, mereka sampai menguras tabungan dan menjual hewan ternak demi membeli air yang kian mahal. Kekeringan melanda wilayah ini dengan tingkat keparahan yang hampir setiap tahun berulang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Paini (65), salah satu warga Kemesu, mengaku sudah empat kali membeli air bersih dari tangki. Untuk mendapatkan air, ia harus merogoh kocek dalam-dalam. "Kalau tabungan menipis ya jual ayam, atau hasil bumi yang dipunya apa dijual buat beli air," kata Paini saat dihubungi detikJogja, Rabu (29/7/2026).
Syukur bagi Paini, di dekat rumahnya ada penampungan air hujan (PAH). Saat ada bantuan dropping air bersih, ia bisa mengambil gratis tanpa perlu jauh-jauh. Namun bantuan itu tidak setiap hari datang, sehingga tetap harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dukuh Kemesu, Sugiyanta, mengatakan setiap musim kemarau warganya selalu mengalami kesulitan air bersih. Untuk bertahan, warga membeli air tangki dengan kapasitas 5.000 liter. "Karena mayoritas di sini petani, rata-rata uang dari jualan hasil bumi dipakai buat beli air bersih per tangki itu," terangnya.
Harga air tangki berkapasitas 5.000 liter mencapai Rp 120 ribu per tangki. Uang sebesar itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga selama dua pekan bagi keluarga dengan empat hingga lima orang. Untuk keluarga dengan tiga orang, air itu bisa bertahan hingga tiga pekan.
Sugiyanta menambahkan, jika tidak ada hasil bumi yang dijual, warga terpaksa menjual ayam atau kambing. "Rata-rata mereka menjual ayam atau kambing untuk beli air bersih," ujarnya. Kondisi ini terjadi jika tidak ada bantuan dropping air bersih dari pemerintah atau donatur.
Untungnya, beberapa waktu terakhir ada bantuan dropping air bersih secara rutin setiap minggu ke Kemesu. Sugiyanta menyebut bantuan ini sangat meringankan beban warga. "Sejak ada bantuan dropping air setiap minggu jadi agak tertolong," ucapnya.
Meskipun demikian, akses air bersih di Kemesu masih sangat terbatas. Sugiyanta mengungkapkan bahwa PDAM telah masuk ke wilayahnya sejak 2018, namun hanya ada tiga titik keluaran. Air PDAM pun hanya mengalir seminggu sekali, tepatnya pada hari Kamis sore hingga Jumat sore.
Warga juga tak bisa mengandalkan sumur karena kondisi geografis Kemesu yang berbukit dan tanahnya berbatu-batu. "Sumur tidak bisa di sini karena daerah perbukitan dan tanahnya banyak batu-batunya," kata Sugiyanta. Kondisi ini membuat warga benar-benar bergantung pada air tangki dan bantuan dropping.
Krisis air bersih di Gunungkidul sebenarnya bukan persoalan baru. Namun dampaknya semakin terasa saat kemarau panjang seperti sekarang. Harapan warga, ada solusi jangka panjang seperti penambahan jaringan PDAM atau pembangunan embung yang bisa menampung air hujan untuk digunakan saat musim kemarau tiba.