Dunia astronomi global mencatat perkembangan krusial setelah NASA secara resmi mengumumkan pembatalan misi penyelamatan Swift Observatory pada Rabu, 19 Agustus 2026. Keputusan ini diambil menyusul kegagalan wahana antariksa komersial LINK untuk melakukan manuver penyelamatan terhadap teleskop yang kian mendekati akhir masa operasionalnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Swift Observatory telah mengorbit bumi selama lebih dari dua dekade untuk mengamati fenomena kosmik seperti semburan sinar gamma. Namun, peningkatan aktivitas badai matahari sejak musim gugur 2024 mempercepat penurunan orbit satelit tersebut secara drastis.
Merujuk pada fakta yang ada, NASA sebelumnya menggandeng perusahaan asal Arizona, Katalyst Space, melalui kontrak senilai 30 juta dolar AS untuk meluncurkan misi penyelamatan berisiko tinggi. Wahana LINK berbobot 880 pon tersebut diproyeksikan untuk menjemput dan mengangkat kembali posisi orbit teleskop ke ketinggian ideal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePenting untuk digarisbawahi bahwa misi ini awalnya dipuji sebagai terobosan besar karena menjadi upaya pertama wahana komersial menangkap satelit pemerintah yang tidak dirancang untuk diservis di luar angkasa. Kendati demikian, realitas di orbit berkata lain ketika wahana penyelamat justru mengalami anomali fatal.
Anomali Wahana LINK dan Masa Depan Swift di Atmosfer
Kabayan News mencermati bahwa wahana LINK mengalami kendala teknis serius kurang dari sebulan setelah diluncurkan menggunakan roket Northrop Grumman dari Kepulauan Marshall pada 3 Juli 2026. Wahana tersebut mendadak berputar di luar kendali dan hanya mengirimkan komunikasi sporadis ke bumi.
Menurut pernyataan resmi perusahaan, upaya berulang menggunakan serangkaian pembakaran pendorong propulsi elektrik gagal menstabilkan putaran wahana tersebut. Situasi ini memaksa Katalyst Space dan NASA mengubah target misi dari penyelamatan total menjadi operasi pendekatan jarak dekat guna mengumpulkan data analitis.
Fenomena ini mencerminkan tingginya risiko finansial dan operasional dalam penerapan model pengadaan komersial yang agresif di sektor keantariksaan modern. Meskipun demikian, Administrator NASA Jared Isaacman menegaskan bahwa langkah berani tetap diperlukan demi kemajuan eksplorasi sains masa depan.
Situasi ini mempertegas bahwa tanpa adanya intervensi lebih lanjut, Swift Observatory akan segera memasuki atmosfer bumi dan terbakar habis sebelum akhir tahun 2026. Kegagalan ini sekaligus menandai babak evaluasi fundamental bagi strategi pemeliharaan aset luar angkasa berharga tinggi.