Model kecerdasan buatan atau AI generatif terbukti memperparah bias gender dengan hampir sepenuhnya melenyapkan karakter perempuan dari cerita anak-anak tentang hewan berbicara, sebagaimana diungkap oleh para peneliti dari University of Washington.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News dari analisis data riset terbaru, para peneliti menguji enam model AI terkemuka untuk menulis cerita hewan tanpa menentukan gender tokohnya, lalu menemukan bahwa karakter betina hanya muncul pada dua persen dari total 23.800 respons.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Model ini sebagian besar tertutup sehingga kami hanya dapat mengujinya dari luar," ujar peneliti machine learning University of Washington, Imani Finkley, dikutip dari laporan ScienceAlert.
Dalam hasil analisis, karakter hewan jantan mendominasi sebanyak 41 persen cerita, sementara sisanya sebanyak 57 persen menggunakan kata ganti netral atau menghindari penyebutan gender secara keseluruhan.
Senior author studi tersebut, Melanie Walsh, menjelaskan bahwa penggunaan netralitas melalui kata ganti benda justru berakibat fatal pada penghapusan eksistensi karakter betina secara tidak terduga.
"Namun dalam melakukannya, mereka pada dasarnya telah menghapus karakter hewan betina sehingga tidak hanya memperkuat bias manusia tetapi juga memutarnya dengan cara aneh dan tak terduga," tambah Walsh.
Model seperti Gemini buatan Google dan GPT-5.1 buatan OpenAI tercatat memiliki persentase karakter jantan tertinggi masing-masing mencapai 63 persen dan 65 persen, sementara Claude buatan Anthropic hanya menghasilkan empat persen karakter betina.