Wali Kota Padang, Fadly Amran, secara resmi membuka ajang Padang Gastronomi Fest 2026 di Kompleks Perumnas Belimbing, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, sebagaimana diwartakan dalam laporan media lokal pada Sabtu malam.
Festival yang digagas melalui dana Pokok-Pokok Pikiran Anggota DPRD Kota Padang, Erianto Mahmuda, ini menjadi wujud nyata pelestarian budaya kuliner lokal sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.
Prosesi pembukaan ditandai secara simbolis lewat pemukulan gendang tabuh oleh Fadly Amran bersama Erianto Mahmuda, yang turut didampingi oleh jajaran pimpinan daerah terkait seperti Kepala Dinas Koperasi dan UKM serta Kepala Dinas Pariwisata.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam sambutannya, Wali Kota Padang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen masyarakat Kuranji yang konsisten merawat tradisi lokal. Menurutnya, tradisi malamang merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus dijaga bersama dan terus dikembangkan.
Lebih lanjut, Fadly memaparkan bahwa Pemerintah Kota Padang saat ini tengah berjuang membawa kota tersebut masuk ke dalam jejaring kota kreatif dunia atau UNESCO Creative Cities Network di bidang gastronomi.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, langkah strategis ini diperkuat melalui pemetaan keunikan kuliner di setiap kecamatan agar potensi gastronomi daerah semakin dikenal luas.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Padang, Erianto Mahmuda, menegaskan bahwa festival ini dirancang sebagai agenda tahunan demi mendukung visi besar pemerintah kota sekaligus memperkuat identitas budaya.
Erianto juga menyoroti urgensi pelestarian budaya kuliner di tengah arus modernisasi, mengingat banyak generasi muda yang mulai melupakan cara membuat lamang.
Acara yang berlangsung meriah tersebut turut dimeriahkan oleh kompetisi memasak yang diikuti oleh 20 perwakilan dari kelompok ibu-ibu PKK tingkat kelurahan dengan penilaian dari dewan juri profesional.
Mengutip keterangan dari pihak penyelenggara, kompetisi ini tidak sekadar menilai cita rasa, melainkan juga menggali nilai historis dan makna filosofis dari setiap sajian tradisional leluhur.