Literary device atau perangkat sastra merupakan strategi penggunaan bahasa yang sengaja digunakan penulis atau pembicara untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan ini biasanya mencakup memfokuskan perhatian audiens, membuat bahasa lebih berkesan, atau membangkitkan respons emosional, rasional, maupun estetis.
Perangkat sastra dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai sub-kategori seperti perangkat naratif, perangkat puitis, perangkat argumentatif, dan skema linguistik. Meskipun demikian, banyak perangkat yang sulit diklasifikasikan secara tegas karena sering digunakan di berbagai bentuk bahasa dan saling tumpang tindih.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam dunia sastra, istilah device merujuk pada setiap strategi penggunaan bahasa yang disengaja. Sementara itu, trope awalnya berarti efek artistik yang diwujudkan dengan bahasa figuratif atau non-literal. Kini definisi trope meluas mencakup penggunaan perangkat yang sering diulang, termasuk tipe karakter dan situasi klise.
Istilah figure of speech dalam konteks ini memiliki dua makna terkait. Makna teknis yang lebih luas berarti sinonim untuk perangkat sastra apa pun, sedangkan secara kolokial lebih spesifik merujuk pada trope. Perbedaan antara literal dan figurative language menjadi dasar pemahaman berbagai perangkat sastra yang ada.
Ironi, Metafora, hingga Skema Bahasa, Ragam Perangkat Sastra
Perangkat naratif diterapkan untuk meningkatkan narasi dan storytelling, seperti foreshadowing yang memberi petunjuk peristiwa mendatang, serta flashback yang mengembalikan cerita ke masa lalu. Perangkat puitis mengandalkan suara dan irama untuk menyampaikan pesan secara lebih kompleks dan artistik melalui persepsi auditori.
Rhetorical device dalam arti sempit merujuk pada teknik persuasif atau argumentatif yang bertujuan membuat posisi lebih meyakinkan. Retorika klasik mengenal tiga klasifikasi berdasarkan emosi, logika, atau kredibilitas pembicara. Contohnya termasuk teknik pengulangan kata dan variasi urutan kata untuk efek tertentu.
Figurative language atau bahasa figuratif adalah cara mengungkapkan sesuatu di luar makna harfiah untuk memberikan perasaan atau makna lebih dalam. Metafora, metonimi, sinekdoke, dan ironi disebut sebagai empat master tropes oleh Kenneth Burke karena frekuensi penggunaannya dalam wacana sehari-hari.
Ironi hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari verbal irony saat pembicara mengatakan kebalikan dari maksud sebenarnya, hingga situational irony ketika situasi berjalan berlawanan dari ekspektasi. Dramatic irony juga sering digunakan, seperti ketika penonton tahu lebih banyak daripada tokoh dalam cerita, menciptakan ketegangan yang kuat.