Upaya global eradikasi polio terus digencarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama berbagai mitra internasional guna mencapai pemusnahan total virus penyebab poliomielitis.
Kampanye masif diprakarsai oleh Global Polio Eradication Initiative (GPEI) sejak tahun 1988 berhasil menekan kasus secara drastis di berbagai belahan dunia, menyusul kesuksesan pemberantasan cacar pada manusia.
Meski demikian, penularan virus polio liar saat ini masih diklasifikasikan sebagai endemik di dua negara utama, yakni Afghanistan dan Pakistan, sementara Nigeria menjadi negara terbaru sukses menghentikan transmisi endemik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeStrategi pencegahan utama mengandalkan vaksinasi melalui dua jenis vaksin utama, yaitu Oral Polio Vaccine (OPV) menggunakan virus dilemahkan dan Inactivated Polio Vaccine (IPV) berbentuk suntikan.
Tantangan Mutasi Vaksin dan Strategi Imunisasi
Kendati OPV sangat efektif memberikan kekebalan kelompok dan mudah disebarkan, tantangan baru muncul ketika virus dalam vaksin mengalami mutasi jangka panjang di populasi dengan cakupan imunisasi rendah.
Mutasi pada virus dari vaksin oral dapat memicu kemunculan circulating vaccine-derived poliovirus atau cVDPV berisiko menimbulkan kasus lumpuh layu di wilayah rentan.
Oleh karena itu, WHO kini mulai mengarahkan peralihan strategi secara bertahap menuju penggunaan vaksin suntik atau IPV dinilai lebih aman dari risiko reaktivasi virus.
Meskipun biaya logistik IPV lebih tinggi dan memerlukan tenaga medis terlatih, vaksin ini tidak memiliki risiko menyebabkan vaccine-associated paralytic poliomyelitis.
Kombinasi penggunaan vaksin OPV dan IPV serta penguatan sistem surveilans global menjadi kunci utama agar target pemusnahan total penyakit polio dapat segera terwujud.