Permintaan pig blood curd di Singapura masih terus melampaui ketersediaan stok di pasaran meski sudah dua bulan berlalu sejak pemerintah resmi mencabut larangan impor produk kuliner tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para pedagang kaki lima hingga jaringan supermarket besar mengaku masih kesulitan mendapatkan pasokan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi antusiasme pembeli.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBadan Pengawas Makanan Singapura atau SFA sebelumnya telah memberikan lampu hijau pada awal April untuk impor produk darah babi olahan asal Thailand dari rumah potong hewan Bangkhla.
Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri masa pelarangan impor yang telah berlangsung selama 27 tahun dan langsung memicu gelombang nostalgia di kalangan penikmat kuliner lokal.
Perburuan Stok di Supermarket
Jaringan ritel besar seperti Cold Storage, Giant, Sheng Siong, hingga FairPrice melaporkan bahwa produk pig blood curd selalu ludes terjual dalam hitungan jam setelah tiba di gerai fisik.
Pihak distributor tunggal CP Foods telah meningkatkan volume impor mingguan secara bertahap dari 6.000 bungkus pada pengiriman perdana menjadi hingga 20.000 bungkus saat ini.
Namun volume produksi tetap bergantung ketat pada kapasitas harian rumah potong hewan di Thailand serta kewajiban uji keamanan pangan yang ketat sebelum diekspor.
Guna menjaga pemerataan bagi konsumen langsung, sejumlah jaringan supermarket terpaksa membatasi penjualan hanya di toko fisik dan tidak memasangnya di platform belanja online.