Sebagian besar riset neurosains masih menggunakan tikus sebagai subjek utama, meskipun tidak semua temuan tersebut dapat diterapkan langsung pada manusia. Berdasarkan analisis Kabayan News, perbedaan struktur saraf antarspesies kerap menyulitkan para peneliti dalam membandingkan data secara akurat di laboratorium.
Profesor Partha Mitra bersama rekan-rekan penelitinya di Cold Spring Harbor Laboratory akhirnya berhasil membangun peta lintas spesies pertama untuk menghubungkan wilayah otak tikus dan marmoset secara sistematis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Ini adalah jenis masalah yang tidak ingin diselesaikan oleh siapa pun karena sangat sulit," ujar Partha Mitra menjelaskan kompleksitas pemetaan anatomi saraf tersebut.
Tim peneliti mencermati bahwa atlas otak yang ada sering kali mengelompokkan struktur kecil ke dalam wilayah yang lebih besar dengan cara berbeda. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka mulai mencocokkan wilayah tingkat terkecil atau leaf-level regions terlebih dahulu sebelum menyusun gambaran yang lebih luas.
"Bayangkan negara dan kota, batas negara bagian mungkin berubah tetapi pada tingkat terendah orang cenderung sepakat mengenai kota," kata Partha Mitra mengilustrasikan metode pencocokan wilayah terkecil.
Melalui penelaahan lebih dari 100 studi yang dipublikasikan, tim peneliti menemukan kecocokan satu-lawan-satu secara langsung untuk 43 persen wilayah otak tikus dan 47 persen wilayah otak marmoset.
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi titik referensi bersama bagi laboratorium lain untuk menyelidiki hubungan antarwilayah otak secara lebih presisi demi pengembangan dunia kesehatan masa depan.