Studi terbaru dari Institute for Basic Science Korea Selatan menunjukkan bahwa otak dewasa masih memiliki peluang perbaikan terkait gangguan sinyal saraf autisme. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, riset yang dipimpin oleh neurosaintis Eunjoon Kim ini menantang asumsi lama yang menyatakan bahwa intervensi medis pada kondisi perkembangan otak harus dilakukan sejak masa kanak-kanak.
Dalam laporan yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, tim peneliti berfokus pada aktivitas reseptor NMDA yang bertugas memperkuat atau melemahkan koneksi antar sel saraf saat belajar. Sebagaimana dilaporkan dari analisis Kabayan News, aktivitas reseptor tersebut kerap ditemukan lebih rendah pada berbagai model eksperimental gangguan perkembangan otak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeUntuk mengatasi masalah itu, para peneliti menyelidiki transporter bernama Slc6a20a yang mengatur kadar glisin sebagai molekul pembantu reseptor NMDA di area kognitif penting seperti korteks dan hipokampus. Mengutip laporan dari Institute for Basic Science, penurunan kadar protein tersebut dilakukan menggunakan teknologi antisense oligonucleotide atau ASO guna mengoptimalkan fungsi sinyal.
Hasil pengujian pada tikus dewasa memperlihatkan peningkatan fungsi reseptor NMDA serta perbaikan perilaku sosial maupun komunikasi yang sebelumnya terganggu. Menurut penjelasan para ahli, penemuan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian fungsi jaringan saraf tidak sepenuhnya kaku setelah masa pertumbuhan berakhir.
Meski demikian, pengamatan Kabayan News mencatat bahwa riset ini masih sebatas uji laboratorium menggunakan hewan serta organoid sel manusia sehingga keamanan dan efektivitasnya pada manusia masih memerlukan penelitian lanjutan yang panjang.