Bagindo Aziz Chan merupakan pahlawan nasional sekaligus Wali Kota Padang kedua yang memimpin perjuangan kemerdekaan melawan agresi militer Belanda di Sumatra Barat. Berdasarkan catatan sejarah, ia lahir di Kampung Alang Laweh, Kota Padang pada 30 September 1910 dari pasangan Bagindo Montok dan Djamilah.
Sebelum mendedikasikan diri untuk pemerintahan dan pergerakan nasional, ia menempuh pendidikan di HIS Padang, MULO Surabaya, AMS Batavia, serta Rechtshoogeschool te Batavia. Pengalaman akademis tersebut membentuk pemikirannya hingga aktif dalam organisasi Jong Islamieten Bond di bawah pimpinan Agus Salim.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKariernya di dunia pendidikan dimulai saat ia kembali ke kampung halaman pada tahun 1935 sebagai guru di berbagai sekolah. Selain mengajar, ia bergabung dengan Persatuan Muslim Indonesia sampai organisasi tersebut dibubarkan pada tahun 1937.
Pasca proklamasi kemerdekaan, ia diangkat sebagai Wakil Wali Kota Padang pada 24 Januari 1946 sebelum akhirnya dilantik sebagai wali kota pada 15 Agustus 1946 menggantikan Mr. Abubakar Jaar. Di tengah situasi genting kedatangan sekutu dan militer Belanda, ia menolak tunduk serta memimpin perlawanan melalui tulisan maupun pidato pembakar semangat.
Puncak ketegangan terjadi pada 19 Juli 1947 ketika rombongannya dicegat di daerah Nanggalo. Berdasarkan hasil visum dokter di Bukittinggi, ia gugur akibat penganiayaan berat oleh tentara Belanda sebelum akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bahagia.
Atas jasa serta pengorbanannya bagi kemerdekaan Indonesia, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 082/TK/2005. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan serta monumen monumental di Kota Padang.