Dokter Tjipto Mangunkusumo lahir di Pecangaan, Jepara, pada tanggal 4 Maret 1886 sebagai putra tertua dari Mangunkusumo seorang priyayi rendahan. Perjalanan hidupnya diwarnai dengan sikap kritis terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda serta penolakan keras terhadap segala bentuk feodalisme.
Semasa menempuh pendidikan di STOVIA, Tjipto dikenal sebagai murid berbakat yang memiliki pandangan tajam dan berbeda dari kebanyakan teman sebayanya. Ia kerap menunjukkan ketidaksukaannya terhadap aturan sekolah yang dianggapnya diskriminatif dan mencerminkan arogansi kolonial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKritik tajam terhadap pemerintah kolonial sering disalurkan melalui tulisan-tulisannya di harian De Locomotief sejak tahun 1907. Akibat pendirian radikal tersebut, ia sering mendapat peringatan hingga akhirnya memilih keluar dari dinas pemerintah.
Perjuangan politik Tjipto terus berlanjut melalui keterlibatannya dalam organisasi Budi Utomo sebelum akhirnya mengundurkan diri karena perbedaan pandangan. Namanya semakin dikenal luas setelah membentuk Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat.
Jejak Perjuangan dan Pengasingan Tiga Serangkai
Tjipto bersama kedua rekannya dalam Tiga Serangkai mendirikan Indische Partij pada tahun 1912 sebagai partai politik pertama yang mencetuskan gagasan pemerintahan sendiri oleh penduduk lokal.
Aktivitas politik yang radikal membuat Tjipto bersama rekan-rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda pada tahun 1913 sebelum akhirnya kembali ke tanah air pada tahun 1917.
Selain aktif dalam dunia politik dan Volksraad, Tjipto juga mendedikasikan keahlian kedokterannya untuk membantu masyarakat, termasuk dalam menangani wabah pes di Malang pada tahun 1911.
Tjipto Mangunkusumo wafat pada tahun 1943 dan dimakamkan di Ambarawa, Semarang, serta diabadikan jasanya oleh pemerintah pada pecahan uang logam rupiah baru.