Profil Laskar Hizbullah mencatat perjalanan sejarah pasukan sukarela pemuda Islam yang aktif berperang selama masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Pasukan ini resmi dibentuk oleh pemerintahan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Desember 1944 dengan nama asli Kaikyō Seinen Teishintai atau Pasukan Sukarela Pemuda Islam.
Berdasarkan catatan sejarah, pembentukan satuan tersebut berawal dari desakan para ulama terkemuka seperti K.H. Mas Mansyur dan rekan-rekan kepada pemerintah pendudukan untuk mendirikan pasukan khusus umat Islam. Berbeda dari PETA yang berada langsung di bawah komando militer Jepang, komando operasional Laskar Hizbullah berada di bawah koordinasi Partai Masyumi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePusat pelatihan militer pertama bagi para pemuda muslim tersebut mulai beroperasi pada 28 Februari 1945 di Cibarusa, Bogor, dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai pesantren di Jawa dan Madura. Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa kepemimpinan pusat latihan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh penting bangsa termasuk K.H. Zainul Arifin Pohan dan Mohammad Roem.
Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, pasukan PETA dibubarkan, sementara Hizbullah tetap aktif karena berada di bawah naungan partai politik. Berdasarkan analisis awak media, kemandirian komando tersebut membuat Laskar Hizbullah mampu bergerak fleksibel dalam melucuti senjata tentara pendudukan dan bergabung dalam berbagai pertempuran besar.
Satuan-satuan Laskar Hizbullah tercatat terlibat aktif dalam sejumlah pertempuran mempertahankan kedaulatan, mulai dari peristiwa Bandung Lautan Api hingga Pertempuran Surabaya. Peran independen pasukan ini akhirnya berakhir pada 3 Juni 1947 setelah Presiden Sukarno mengumumkan peleburan seluruh laskar rakyat ke dalam Tentara Nasional Indonesia.