Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang pada 5 Maret 1909 dari pasangan Mohammad Rasad dan Puti Siti Rabiah. Tokoh besar ini menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia yang memegang kendali pemerintahan dari tahun 1945 hingga 1947.
Berdasarkan catatan sejarah, Sjahrir menghabiskan masa remaja di Medan sebelum melanjutkan pendidikan menengah di AMS Bandung. Semasa sekolah, ia aktif mendirikan Tjahja Volksuniversiteit untuk memberikan pendidikan melek huruf gratis kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerjalanan intelektual Sjahrir semakin matang ketika ia menempuh studi hukum di Universitas Amsterdam, Belanda. Di sana, ia mendalami teori-teori sosialisme secara mendalam serta aktif bergabung dalam Perhimpunan Indonesia di bawah kepemimpinan Mohammad Hatta.
Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1931, Sjahrir aktif menggerakkan roda pergerakan nasional dan memimpin PNI Baru. Sikap radikal serta pergerakannya dalam mendidik kader bangsa membuat pemerintah kolonial Belanda merasa terancam hingga membuangnya ke Boven Digoel dan Banda Neira.
Memasuki masa pendudukan Jepang, Sjahrir memilih jalur pergerakan bawah tanah karena meyakini Jepang akan kalah dalam Perang Dunia II. Jaringan rahasia ini dipersiapkan secara matang demi merebut kemerdekaan Indonesia pada momen yang paling tepat.
Akhir hayat Sjahrir diwarnai masa-masa sulit sebagai tawanan politik dalam pengasingan hingga wafat pada 9 April 1966. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres nomor 76 tahun 1966.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan warisan pemikiran Sjahrir tentang demokrasi dan sosialisme tetap relevan hingga kini. Keteladanan moral serta ketajaman intelektualnya terus menjadi inspirasi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia.