Istana Kadriah atau Keraton Kadriah merupakan istana Kesultanan Pontianak yang dibangun dari tahun 1771 sampai 1778 masehi. Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie menjadi sultan pertama yang mendiami istana tersebut dan menjadikannya cikal bakal lahirnya Kota Pontianak di Kalimantan Barat.
Keberadaan istana bermula ketika Syarif Abdurrahman beserta keluarganya tiba di daerah pertemuan tiga sungai pada tanggal 23 Oktober 1771 masehi, yaitu Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas, lalu memutuskan untuk menetap di wilayah tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTak lama setelah pembangunan selesai pada tahun 1778, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak. Dalam perkembangannya, bangunan istana terus mengalami proses renovasi serta rekonstruksi hingga bentuknya dapat disaksikan saat ini.
Kompleks bangunan bersejarah ini terletak strategis di dekat pusat kota sehingga memudahkan wisatawan untuk mengunjunginya melalui jalur darat maupun jalur sungai menggunakan perahu dari pelabuhan Senghie.
Arsitektur Khas dan Koleksi Benda Bersejarah
Struktur bangunan utama Istana Kadriah terbuat dari kayu pilihan dengan dominasi warna kuning khas istana-istana Melayu. Pada bagian depan hingga kiri istana terdapat 13 meriam kuno buatan Portugis dan Prancis.
Sebuah ruangan berupa mimbar menjorok ke depan dulunya digunakan sultan sebagai tempat peristirahatan sambil menikmati pemandangan sungai. Ruangan tersebut juga menyimpan Genta sebagai penanda marabahaya serta cermin antik Prancis bernama Kaca Seribu.
Aula utama keraton menyimpan koleksi benda bersejarah yang cukup lengkap, mulai dari beragam perhiasan turun-temurun, artefak kuno, barang pecah belah, hingga foto keluarga sultan.
Letak istana berada dalam satu kompleks dengan Masjid Jami Pontianak yang mencerminkan tata ruang tradisional kesultanan Islam Melayu, di mana pusat pemerintahan dan keagamaan berdiri berdampingan.