Profil KHR Asad Syamsul Arifin mengisahkan perjalanan hidup seorang ulama karismatik asal Situbondo yang menjadi figur kunci dalam sejarah berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Berdasarkan catatan sejarah, ia lahir di Mekah pada tahun 1897 dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah, serta memiliki garis keturunan bangsawan dari Sunan Kudus maupun Sunan Ampel.
Berdasarkan penelusuran tim redaksi, masa kecil Kiai Asad diwarnai kepindahan keluarganya ke Madura sebelum akhirnya membuka lahan baru di Dusun Sukorejo, Situbondo, untuk mendirikan pesantren. Sebagaimana dilaporkan dalam catatan biografi, pendidikan dasarnya ditempa langsung oleh sang ayah sebelum ia melanjutkan pencarian ilmu ke berbagai pesantren tua di Jawa serta mendalami ajaran Islam di Tanah Suci.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePeran paling monumental dalam hidupnya terjadi pada tahun 1924 ketika Syaikhona Kholil mengutusnya mengantarkan tongkat dan tasbih disertai ayat Al-Qur'an kepada KH Hasyim Asyari di Tebuireng. Mengutip laporan sejarah, isyarat tersebut menjadi fondasi spiritual kuat bagi para ulama Nusantara untuk bersepakat mendirikan Jam'iyah Nahdlatul Ulama di Surabaya pada tahun 1926.
Setelah kepemimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah beralih kepadanya pasca wafatnya sang ayah pada tahun 1951, institusi pendidikan tersebut berkembang pesat dengan ribuan santri dari berbagai daerah. Dari analisis awak media, dedikasi panjangnya dalam memajukan pendidikan Islam serta kiprah kebangsaannya mengantarkan dirinya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 9 November 2016.