Profil Mohammad Amir mengupas perjalanan hidup seorang tokoh pergerakan nasional sekaligus menteri negara pada Kabinet Presidensial tahun 1945. Lahir pada tanggal 27 Januari 1900, ia tumbuh dari keluarga terpelajar Minangkabau di mana sepupunya meliputi Mohammad Yamin dan Djamaludin Adinegoro.
Perjalanan pendidikannya bermula di HIS Palembang sebelum melanjutkan ke ELS Batavia dan MULO. Ia kemudian masuk STOVIA dan mendapatkan beasiswa meneruskan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas Utrecht Belanda antara tahun 1924 sampai 1928.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSemasa muda, ia aktif berorganisasi dengan mendirikan Jong Sumatranen Bond tanggal 8 Desember 1917 bersama Tengku Mansur. Peran aktifnya terus berlanjut hingga terpilih menjadi komisaris Perhimpunan Indonesia di Belanda pada tahun 1925.
Karier politiknya mencapai puncak ketika ia mewakili rakyat Sumatra dalam sidang PPKI bersama Teuku Mohammad Hasan tanggal 14 Agustus 1945. Ia kemudian dipercaya Presiden Soekarno mengemban jabatan sebagai menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia.
Akhir Hidup dan Rekam Jejak Mohammad Amir
Gelora perjuangan Mohammad Amir sempat diuji ketika pemberontakan sosial melanda Sumatra Timur hingga ia harus dipindahkan ke Sabang. Dari kota tersebut, ia diterbangkan ke Utrecht Belanda yang kemudian memicu tuduhan sebagai pengkhianat bangsa.
Pada fase akhir kehidupannya, ia berpindah-pindah tempat tinggal di Sulawesi mulai dari Gorontalo, Palu, sampai Makassar berkat bantuan D. J. Warouw. Kepindahannya ini mencerminkan dinamika masa peralihan kemerdekaan yang penuh gejolak politik.
Kesehatan politikus senior tersebut mulai menurun tatkala terserang penyakit jantung pada Oktober 1949 di Makassar. Ia lantas bertolak ke Belanda guna menjalani pengobatan intensif demi menyembuhkan penyakitnya.
Takdir berkata lain karena ia mengembuskan napas terakhir di Amsterdam Belanda tanggal 20 Desember 1949 akibat serangan jantung. Selain berkecimpung di dunia politik, ia juga dikenal sebagai penulis aktif serta kritikus tajam di majalah Pujangga Baru.