Kiras Bangun lahir di Desa Batukarang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada tahun 1852 dan dikenal luas dengan julukan Garamata karena bermata merah. Beliau merupakan salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang mendedikasikan hidupnya untuk menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Karo dalam menentang penjajahan Belanda.
Semasa mudanya, tokoh pejuang ini aktif bekelana dari satu urung ke urung lain guna memelihara norma, adat, serta budaya masyarakat setempat. Kerja sama antar desa yang digalang tersebut berhasil membentuk kekuatan pasukan Urung, yang terlibat dalam berbagai pertempuran sengit melawan tentara kolonial Belanda di Tanah Karo sejak tahun 1905.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun tidak pernah menempuh pendidikan formal, Kiras Bangun memiliki kecerdasan luar biasa dengan menguasai bahasa Melayu, aksara Karo, serta mampu membaca dan menulis huruf latin. Kapasitas kepemimpinannya turut diakui melalui pengangkatannya sebagai Ketua Adat Karo Lima Senina hingga menjadi Penghulu Lima Senina di Batu Karang.
Gerakan perlawanan bawah tanah yang dipimpinnya membuat pemerintah kolonial Belanda menggunakan taktik tertentu untuk menangkap dan membuangnya ke Riung. Setelah dibebaskan dengan status pengawasan ketat, beliau bersama kedua putranya kembali melanjutkan pemberontakan di Tanah Karo hingga akhirnya kembali ditangkap dan dibuang ke Cipinang.
Jejak Perjuangan Garamata di Tanah Karo
Perjuangan panjang pahlawan kharismatik ini berakhir pada tanggal 22 Oktober 1942 di tanah kelahirannya, Desa Batukarang. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa besarnya terhadap bangsa, pemerintah Indonesia melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2005.
Jejak perlawanan Kiras Bangun tidak lepas dari peran strategisnya dalam menghimpun ribuan pasukan lokal demi mempertahankan kedaulatan tanah kelahiran. Pasukan lintas wilayah yang terkumpul mencapai ribuan orang dan menjadi momok menakutkan bagi aparat kolonial Belanda di kawasan Sumatera Utara.
Keluarga turut memegang peranan penting dalam meneruskan estafet perlawanan terhadap penjajah melalui keterlibatan langsung anak-anaknya. Putra beliau, Payung Bangun, bahkan tercatat memimpin pasukan militer Barisan Harimau Liar dalam mempertahankan kemerdekaan dan melawan ketidakadilan.
Meskipun menghadapi berbagai tekanan politik, pengasingan, serta pengawasan ketat dari aparat kolonial, semangat juang Kiras Bangun tidak pernah padam hingga akhir hayatnya. Beliau terus mendedikasikan diri untuk membela kepentingan rakyat dan kemanusiaan di tengah cengkeraman penjajahan.