Sultan Thaha Saifuddin dikenal sebagai sultan terakhir dari Kesultanan Jambi sekaligus tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang konsisten menentang kekuasaan kolonial Belanda. Lahir di Keraton Tanah Pilih Jambi pada pertengahan tahun 1816 dengan nama kecil Raden Thaha Jayadiningrat, ia tumbuh menjadi sosok bangsawan rendah hati dan dekat dengan masyarakat.
Perjuangan kepemimpinannya dimulai ketika ia naik tahta pada tahun 1855 untuk menggantikan Sultan Abdurrahman Nazaruddin. Namun langkah tegasnya menolak memperbarui perjanjian kolonial memicu invasi militer Belanda ke wilayah Jambi pada tahun 1858 dan memaksa sang sultan menyingkir dari istana.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun harus meninggalkan pusat pemerintahan, ia tidak pernah berhenti mengorganisasi perlawanan gerilya dari daerah-daerah yang sulit dijangkau. Di mata rakyat Jambi, ia tetap dianggap sebagai pemimpin sah, sementara sultan-sultan lain pengganti di keraton sering dijuluki sebagai penguasa bayangan bentukan kolonial.
Perjalanan hidup sang pejuang berakhir gugur dalam pertempuran sengit di Sungai Aro pada tanggal 26 April 1904. Jenazahnya kemudian dimakamkan dengan penghormatan di daerah Muara Tebo, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.
Jejak Warisan dan Gelar Pahlawan Nasional
Dedikasi dan keteguhan sikap dalam melawan ketidakadilan membuat pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional. Penetapan tersebut resmi dikeluarkan pada tanggal 24 Oktober 1977 melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 079 TK Tahun 1977.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya bagi bangsa, nama besar tokoh kharismatik ini kini diabadikan pada berbagai fasilitas publik penting di daerah asalnya. Salah satu penamaan paling ikonik adalah Bandar Udara Sultan Thaha di Kota Jambi.
Selain sektor transportasi udara, identitas kepahlawanan tersebut juga disematkan pada institusi pendidikan tinggi Islam negeri, yakni Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin. Pengabadian nama serupa turut diberikan pada fasilitas kesehatan di Kabupaten Tebo.
Keteladanan dari sang sultan terakhir ini terus dikenang oleh generasi penerus sebagai simbol keteguhan prinsip dalam membela kedaulatan tanah air dari cengkeraman penjajah.