Pasar Senen merupakan pasar tertua di Jakarta yang memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Dinamai demikian karena kegiatan perdagangan di pasar ini awalnya hanya berlangsung setiap hari Senin dan didominasi oleh pedagang etnis Tionghoa. Seiring berjalannya waktu, pasar ini mengalami perubahan nama menjadi Vinck passer merujuk pada arsitek pengembangnya Yustinus Vinck, dan resmi dibuka pada tanggal 30 Agustus 1733 di kawasan Weltevreden.
Pembangunan Pasar Senen dilakukan bersamaan dengan Pasar Tanah Abang di atas lahan milik anggota Dewan Hindia Cornelis Chastelein. Meskipun awalnya hanya buka pada hari Senin, tingginya antusiasme masyarakat membuat pasar ini akhirnya dibuka setiap hari mulai tahun 1766. Wajah kawasan ini terus bertransformasi selama lebih dari dua abad dan menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting di ibu kota.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePada era pra kemerdekaan tahun 1930-an, kawasan sekitar Pasar Senen menjadi tempat berkumpulnya para intelektual muda serta pejuang bawah tanah dari Stovia. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Adam Malik, dan Chairul Saleh kerap mengadakan pertemuan penting di kawasan ini. Memasuki era pendudukan Jepang hingga tahun 1950-an, tempat ini juga menjadi titik berkumpul favorit para seniman Pujangga Baru yang dijuluki Seniman Senen.
Memasuki dekade 1970 hingga 1990-an, pamor Pasar Senen semakin bersinar sebagai pusat perekonomian dan hiburan utama di Jakarta. Gubernur Ali Sadikin bahkan mencanangkan proyek pembangunan fasilitas gedung parkir melingkar pertama di Jakarta pada kawasan tersebut. Sayangnya, kejayaan itu mulai meredup pasca krisis dan kerusuhan massal tahun 1998, ditambah dengan munculnya pusat perbelanjaan modern di sekitarnya yang membuat sebagian area menjadi kurang terawat.
Transformasi Modern dan Insiden Kebakaran Beruntun di Pasar Senen
Transformasi besar kembali dilakukan pada tahun 2011 melalui pembangunan jembatan penghubung modern antara Plaza Atrium dan Pasar Senen utara. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengembalikan minat konsumen serta memadukan konsep pasar tradisional dan modern dalam satu kawasan komersial yang terintegrasi.
Saat ini, Pasar Senen dikenal sebagai surga belanja yang menawarkan berbagai kebutuhan masyarakat secara lengkap. Mulai dari pusat grosir tas dan aksesoris wanita, onderdil kendaraan, pakaian kasual maupun formal, alat tulis kantor, hingga sentra kuliner legendaris Pasar Kue Subuh yang selalu ramai dikunjungi pembeli dari berbagai penjuru wilayah.
Namun, perjalanan panjang Pasar Senen juga diwarnai oleh insiden musibah kebakaran hebat yang melanda beberapa blok bangunannya. Pada Jumat 25 April 2014, kebakaran besar menghanguskan Blok III Pasar Senen dengan mengerahkan puluhan unit mobil pemadam kebakaran untuk memadamkan api yang berkobar sejak dini hari.
Kebakaran kembali terulang pada Kamis 19 Januari 2017 yang melahap sekitar 500 kios di Blok I dan Blok II Pasar Senen. Meskipun menghadapi berbagai ujian berat termasuk insiden kebakaran dan dinamika perkotaan, Pasar Senen tetap bertahan sebagai salah satu ikon sejarah dan pusat perdagangan yang tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan Kota Jakarta.