Benteng Frederik Hendrik atau dikenal juga sebagai Benteng Prins Frederik merupakan salah satu peninggalan bersejarah berbentuk fortifikasi militer di Batavia yang kini menjadi wilayah Jakarta. Pemerintah kolonial Belanda membangun benteng tersebut pada tahun 1837 atas instruksi langsung dari Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch.
Sebelum berfungsi sebagai kawasan militer, area tapak benteng dulunya merupakan sebuah kedai minum yang berdiri sebelum tahun 1669. Sersan Mayor Herman van Baijen kemudian merenovasinya menjadi rumah peristirahatan pada tahun 1723, sebelum dialihfungsikan menjadi rumah sakit luar benteng kota.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemilihan lokasi tersebut didasari oleh kondisi geografis perbukitan rendah di pedalaman Batavia yang dianggap lebih sehat dan minim risiko penyakit malaria. Kompleks bangunan ini dikelilingi oleh tanah subur di antara dua cabang aliran Sungai Ciliwung.
Perancangan struktur benteng dikerjakan oleh Insinyur Kolonel Carel van der Wyck, sementara pelaksanaan konstruksinya dipimpin oleh Kapten Lucius Gerhard Johan George Schonermarck. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pangeran Willem Frederik Hendrik, anak dari Raja William II dari Belanda.
Keindahan Taman Wilhelmina dan Arsitektur Benteng
Seiring berjalannya waktu, benteng pertahanan ini tidak pernah sekalipun merasakan pertempuran langsung karena tidak ada serangan militer berarti ke Batavia hingga tahun 1942. Kompleks benteng ini akhirnya dibongkar sekitar tahun 1961 untuk pembangunan Masjid Istiqlal.
Masyarakat lokal pada masa kolonial kerap menjuluki bangunan bersejarah ini dengan sebutan Gedung Tanah. Keberadaannya kini hanya tinggal kenangan sejarah tata kota masa lalu di pusat ibu kota.
Area di sekitar Benteng Frederik Hendrik dikelilingi oleh kawasan hijau luas yang dinamakan Taman Wilhelmina untuk mengenang Ratu Wilhelmina. Taman seluas 9,32 hektar tersebut tercatat sebagai taman terbesar di Asia pada masa itu.
Dari segi rancang bangun, benteng ini mengusung bentuk dasar persegi dengan elemen selekok di setiap sudutnya. Jendela-jendela bangunan dirancang multifungsi sebagai lubang penempatan meriam pertahanan.