Ratu Juliana dari Belanda memegang tampuk kepemimpinan kerajaan dari tahun 1948 hingga memutuskan turun takhta pada tahun 1980. Lahir dengan nama lengkap Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina di Den Haag, ia merupakan anak tunggal dari Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Mecklenburg-Schwerin.
Masa kecil sang putri dihabiskan di berbagai istana megah seperti Istana Het Loo dan Istana Noordeinde. Demi mempersiapkan diri mengemban tugas konstitusional, ia mendapatkan pendidikan khusus melalui sekolah kecil di istana sebelum melanjutkan studi mendalam di Universitas Leiden.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelama masa kepemimpinannya, ia menghadapi berbagai dinamika politik besar termasuk proses dekolonisasi dan kemerdekaan Hindia Belanda serta Suriname. Di tengah dinamika zaman dan beragam kontroversi keluarga kerajaan, ia tetap menjadi figur ratu populer di hati masyarakat Belanda.
Setelah turun takhta demi putri sulungnya, Beatrix, pada tahun 1980, ia menjalani masa senjanya hingga tutup usia pada tahun 2004 di usia 94 tahun. Namanya tetap dikenang sebagai salah satu mantan penguasa monarki dengan usia terpanjang dalam sejarah modern.
Pendidikan dan Pernikahan Ratu Juliana dengan Pangeran Bernhard
Pendidikan Ratu Juliana dirancang secara intensif agar ia siap memegang takhta kerajaan saat menginjak usia 18 tahun. Di Universitas Leiden, ia mendalami berbagai disiplin ilmu penting seperti sosiologi, hukum internasional, sejarah, hingga hukum konstitusional.
Memasuki usia dewasa, pencarian pendamping hidup menjadi salah satu agenda penting keluarga kerajaan di tengah standar ketat yang diterapkan Ratu Wilhelmina. Pertemuannya dengan Pangeran Bernhard dari Lippe-Biesterfeld pada ajang Olimpiade Musim Dingin 1936 mengubah jalan hidupnya.
Hubungan asmara pasangan tersebut berlanjut hingga pertunangan mereka resmi diumumkan pada 8 September 1936 setelah melalui berbagai aturan legal penataan kekayaan kerajaan. Pangeran Bernhard kemudian resmi menjadi warga negara Belanda sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.
Pernikahan keduanya digelar pada 7 Januari 1937 di Den Haag dan menjadi momen bersejarah bagi bangsa Belanda. Pasangan bangsawan ini kemudian menetap di Istana Soestdijk di Baarn dan dikaruniai empat orang putri.