Kehadiran pusat data kecerdasan buatan atau AI di berbagai wilayah perkotaan hingga perdesaan memicu perdebatan terkait dampaknya terhadap nilai properti warga. Berdasarkan laporan dari Center for Regional Analysis George Mason University, rumah yang berada dekat pusat data justru mempunyai nilai jual lebih tinggi dibandingkan bangunan berlokasi jauh.
Fenomena tersebut terlihat jelas di wilayah Virginia yang dijuluki sebagai pusat data alley. Kenaikan harga properti ini berlaku bagi berbagai jenis hunian, mulai dari rumah tapak, townhome, hingga kondominium, seiring kedekatannya dengan fasilitas pusat data.
Analisis Kabayan News menunjukkan tingginya harga rumah di sekitar fasilitas AI bukan semata-mata karena keberadaan bangunan tersebut, melainkan faktor infrastruktur pendukung seperti akses transportasi, pasar kerja, serta ketersediaan utilitas modern. Wilayah yang terpilih menjadi lokasi pusat data biasanya telah dirancang memiliki jaringan listrik dan internet andal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun mendongkrak nilai properti, jajak pendapat Emerson College mencatat bahwa sekitar 63 persen pemilih di Amerika Serikat menolak pembangunan pusat data di dekat lingkungan mereka. Warga khawatir kehadiran fasilitas raksasa ini mendatangkan masalah baru seperti kemacetan lalu lintas, polusi suara, serta penurunan ruang terbuka hijau.
Selain itu, para pemilik rumah menghadapi tantangan tersendiri ketika hendak menjual properti mereka karena sebagian pembeli merasa ragu dengan lingkungan sekitar yang bising dan工业. Persaingan lahan antara pengembang perumahan dan perusahaan teknologi besar juga memperketat ketersediaan tanah baru untuk pemukiman.