Unggahan rekam medis ke dalam platform kecerdasan buatan generatif kini semakin marak dilakukan masyarakat tanpa menyadari adanya ancaman privasi yang mengintai. Berdasarkan laporan dari Robinson & Cole LLP yang dipublikasikan pada Kamis, 13 Agustus 2026, berbagi informasi kesehatan sensitif ke chatbot seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude dapat berdampak fatal bagi keamanan data pribadi.
Dalam studi yang diterbitkan oleh Journal of the American Medical Association, terungkap bahwa penggunaan model bahasa besar untuk menganalisis data rekam medis elektronik memicu potensi pelanggaran privasi, diskriminasi, hingga pelebaran kesenjangan kesehatan. Berdasarkan analisis Kabayan News, informasi yang dibagikan kepada perusahaan komersial kehilangan perlindungan hukum federal HIPAA yang biasanya menjaga kerahasiaan data dari penyedia layanan medis.
"Begitu informasi kesehatan dibagikan kepada perusahaan komersial, data tersebut tidak lagi dilindungi oleh HIPAA," tulis laporan tersebut. Selain itu, data yang diunggah berisiko bocor melalui respons pengguna lain, menghasilkan informasi yang tidak akurat, atau dibagikan kepada pihak ketiga sesuai kebijakan privasi masing-masing pengembang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejumlah insiden hukum telah mencuat akibat ketergantungan berlebihan terhadap diagnosis dari kecerdasan buatan. Beberapa individu bahkan melayangkan gugatan hukum terhadap pengembang AI karena diagnosis keliru yang membahayakan nyawa, meskipun perusahaan pembuat telah mencantumkan peringatan agar pengguna tidak mengandalkan chatbot untuk kebutuhan medis darurat.
Masyarakat diimbau untuk selalu membaca kebijakan privasi secara teliti sebelum membagikan data sensitif apa pun ke dalam platform digital. Melindungi informasi kesehatan pribadi dari paparan entitas komersial merupakan langkah krusial untuk menghindari kerugian di kemudian hari.