Berdasarkan penunjukan terbaru di lingkup pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Nanik S Deyang yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Kebijakan pengangkatan mantan Wakil Menteri Pertanian tersebut lantas memicu sorotan serta kritikan tajam dari kalangan pengamat politik publik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, keputusan menempatkan figur-figur terdekat dalam posisi strategis tidak memberikan jaminan penuh terhadap kepuasan kinerja lembaga. Berdasarkan analisisnya, rekam jejak Sudaryono dinilai masih terbilang minim untuk memimpin instansi yang mengawal langsung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis.
"Silakan dilakukan seleksi secara terbuka. Bila perlu ada kompetisi yang dilakukan yang melibatkan banyak pakar dan ini dilakukan terbuka siapa saja yang mau menduduki posisi itu, supaya apa? Karena kita mau jangan sampai program prioritas ini gagal," kata Fernando saat menyampaikan pandangannya.
Dari pantauan redaksi, penunjukan orang-orang terdekat di lingkaran kekuasaan memang menjadi tren tersendiri sejak awal masa pemerintahan. Kendati demikian, publik berharap penempatan pejabat publik tetap mengedepankan kriteria profesionalisme dan kompetensi ketat mengingat besarnya alokasi anggaran yang dikelola oleh BGN.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lapangan, kritik konstruktif yang disuarakan berbagai elemen masyarakat sejatinya merupakan bentuk dukungan agar program strategis pemerintah berjalan efektif. Transparansi dalam pengisian jabatan penting diyakini mampu mencegah potensi kegagalan pelaksanaan program bantuan bergizi bagi masyarakat luas.