Proyek restorasi alam seluas 2.500 hektare di Broughton Sanctuary, Skipton, Inggris, menunjukkan hasil gemilang dengan kembalinya lima spesies burung hantu asli ke satu kawasan sejak 2021. Upaya konservasi ini dipimpin oleh tim pemulihan alam yang mencakup pemulihan lahan basah dan penanaman 340.000 pohon asli.
"Saat serangga datang, Anda mendapatkan burung kecil. Mamalia kecil hidup di rumput panjang sehingga Anda mendapatkan burung pemangsa. Jadi itu memicu segalanya," ujar Sarah Kinloch, seorang konservasionis proyek tersebut.
Keluarga Tempest telah mengawasi Broughton Hall Estate selama lebih dari 900 tahun. Lahan tersebut sempat melewati periode pertanian intensif yang menyisakan hamparan rumput hijau tanpa variasi berarti sebelum akhirnya direvitalisasi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeRelawan dan staf konservasi mencatat jumlah spesies yang hidup di kawasan tersebut telah mencapai sekitar 1.750 jenis. Keberhasilan ini juga ditandai dengan hadirnya berbagai burung pemangsa lain seperti alap-alap, layang-layang merah, kestrel, alap-alap peregrine, dan harrier hen.
Peran Penting Hewan dalam Pemulihan Ekosistem
Sanctuary ini menggunakan berbagai metode pemulihan secara bersamaan, termasuk memasukkan berang-berang yang membangun bendungan untuk menahan air. Adrian Lee, salah satu penjaga satwa liar, menyatakan perubahan yang terjadi sangat luar biasa dalam waktu singkat.
"Perubahan yang saya lihat, terutama sejak kami mulai melakukan rewilding, sungguh luar biasa," kata Adrian Lee.
Selain berang-berang, proyek ini juga melibatkan babi Zaman Besi yang diperkenalkan pada Agustus 2024. Hewan tersebut bertugas menggali tanah untuk menciptakan area terbuka agar bunga liar dapat tumbuh dan benih dorman dapat berkecambah.
"Kita memiliki rasa keterputusan yang mendalam dari alam sebagai ras manusia. Jadi kami ingin mencoba membawa itu ke dalam keseimbangan yang lebih baik, karena tanpa planet yang sehat kita tidak dapat bertahan hidup sebagai spesies," ucap Sarah Kinloch.