Review game Creepshow garapan pengembang PHL Collective bersama penerbit Dread XP menawarkan pengalaman petualangan horor point-and-click berbasis narasi komik klasik. Berdasarkan analisis Kabayan News, permainan ini mengadopsi gaya visual cel-shaded ala Telltale yang menampilkan kisah antologi mengerikan namun menyisakan tanda tanya besar pada alur utamanya.
Pemain dikendalikan untuk memerankan karakter Danny saat menjelajahi pusat perbelanjaan terbengkalai bersama teman-temannya demi mencari petunjuk kematian sang ayah. Sebagaimana dilaporkan William Worrall dalam ulasannya, para pemain justru menemui sosok misterius di dalam kotak yang meminta mereka membaca komik horor Creepshow sebagai inti permainan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeCerita dalam game terbagi menjadi dua segmen antologi utama yang masing-masing berdurasi sekitar satu jam lebih dengan teka-teki cukup sederhana. Mengutip laporan TechRaptor, kisah pertama menghadirkan kengerian psikologis mendalam mengenai pria berduka yang terobsesi pada istri dan serangga, sementara segmen kedua menyoroti vikaris terasing di paroki pedesaan.
Kendati kisah antologinya berhasil membangun atmosfer menyeramkan, narasi penghubung antarsegmen justru dinilai gagal total karena terlalu klise dan dipenuhi stereotip film horor era delapan puluhan. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, akhir cerita menggantung tanpa resolusi jelas membuat pemain merasa penasaran sekaligus kecewa karena misteri utama kematian ayah Danny sama sekali tidak terjawab.
Dari segi visual dan audio, game ini menggunakan gaya seni cel-shaded yang ramah berbagai spesifikasi perangkat keras meskipun sempat mengalami beberapa kendala teknis kursor. Secara keseluruhan, permainan ini tetap layak dicoba oleh penggemar horor sejati yang mengutamakan atmosfer cerita menegangkan di atas kompleksitas teka-teki.