Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi yang melibatkan Bupati Pati nonaktif, Sudewo, kembali menyita perhatian publik setelah saksi mata membeberkan detail percakapan internal yang cukup mengejutkan di lingkungan pemerintahan daerah.
Berdasarkan laporan yang dihimpun di Pengadilan Tipikor Semarang, Kepala Desa Angkatan Lor, Sudiyono, yang hadir sebagai saksi dalam "tim 8" mengungkapkan momen ketika Sudewo mengetahui adanya praktik lancung terkait tarif pengisian posisi perangkat desa.
Menurut kesaksian Sudiyono, kemarahan tersebut bermula ketika Sudewo menanyakan mekanisme pengisian perangkat desa yang lazim dilakukan pada periode sebelumnya lantaran dirinya belum memiliki pengalaman dalam proses tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Seingat saya saat itu Pak Sadewo bertanya kepada kami, "carane piye wong aku durung tau nggawe?". Karena yang bersangkutan belum pernah punya pengalaman," ungkap Sudiyono di hadapan majelis hakim, Rabu (19/8/2026).
Sebagaimana diwartakan, ketika salah satu kepala desa menjelaskan bahwa sistem terdahulu menggunakan setoran uang, Sudewo lantas menanyakan kisaran nominalnya yang kemudian disebut mencapai angka puluhan hingga seratusan juta rupiah tergantung pada jenis seleksi.
Mendengar rincian biaya yang dinilai sangat tinggi tersebut, Sudiyono menyebutkan bahwa Sudewo tampak terkejut sekaligus menunjukkan ekspresi kemarahan karena khawatir kondisi wilayah Pati akan semakin memanas.
"Bapak Bupati mengatakan, "kok mahal banget?". Termasuk juga setengah marah mungkin beliau. "Iki ngko umpamane Pati masih panas, tambah mahal nanti". Bilang begitu," ujar Sudiyono menirukan respons sang bupati.
Kendati demikian, jalannya persidangan terus menguliti berbagai pertemuan lanjutan yang digelar para kepala desa untuk membahas wacana penetapan nominal tarif serta pembagian wilayah koordinasi guna mengisi kekosongan jabatan di Kabupaten Pati.