Berdasarkan pengamatan tim redaksi di Estadio New York New Jersey, Spanyol sukses mengamankan gelar juara Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan sang juara bertahan, Argentina, dengan skor tipis 1-0. Kemenangan skuad asuhan Luis de la Fuente ditentukan lewat gol tunggal Ferran Torres di babak perpanjangan waktu pada pertandingan yang berlangsung penuh tensi tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dari pantauan redaksi, laga final ini menyajikan pertarungan sengit antara gaya permainan kontrol bola Spanyol melawan gaya taktis agresif Argentina. Skuad Albiceleste yang dipimpin Lionel Scaloni berulang kali menerapkan permainan fisik untuk meredam aliran bola La Roja, namun kedisiplinan serta variasi serangan Spanyol akhirnya mampu memecah kebuntuan di menit ke-107.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Lionel Messi yang harus mengakhiri turnamen dengan air mata. Pemain berjuluk GOAT tersebut gagal menampilkan performa terbaiknya setelah lini tengah Argentina lebih berfokus melakukan pelanggaran ketimbang membangun serangan, sehingga membuat pergerakan Messi relatif terisolasi sepanjang pertandingan.
Nasib buruk Argentina makin diperparah oleh aksi Enzo Fernandez yang diganjar kartu merah akibat akumulasi kartu kuning di akhir waktu normal. Pelanggaran keras gelandang Chelsea tersebut terhadap Pau Cubarsi terbukti merugikan timnya, yang kemudian harus bermain dengan 10 orang hingga memaksa Argentina bertekuk lutut di babak tambahan.
Sebaliknya, pujian layak diberikan kepada Luis de la Fuente yang kejelian taktiknya terbukti ampuh. Keputusannya memasukkan Ferran Torres dan Nico Williams menjadi kunci kemenangan setelah kombinasi kedua pemain pengganti tersebut membuahkan gol tunggal penentu gelar juara bagi tim Matador.
Sementara itu, laga puncak ini juga menyisakan catatan kritis terkait kualitas rumput stadion di East Rutherford yang dinilai kurang memadai untuk pertandingan sekelas final Piala Dunia. Beberapa pengamat sepak bola bahkan mengkritik keras aspek komersialisasi serta penyelenggaraan acara yang dinilai terlalu berlebihan.