Studi terbaru dari Imperial College London melibatkan 135.725 responden dewasa di Inggris untuk mengungkap tingkat kesepian di tengah masyarakat. Hasil riset menunjukkan bahwa hampir 1 dari 6 orang dewasa atau sekitar 16 persen dari total responden melaporkan merasa kesepian secara kronis dalam kehidupan sehari-hari.
Para peneliti menemukan fakta mengejutkan bahwa tingkat kesepian tertinggi justru terkonsentrasi di wilayah perkotaan besar seperti London, Birmingham, dan Manchester. Fenomena ini sejalan dengan teori urban paradox di mana masyarakat di kota besar dengan fasilitas lengkap sering kali mengalami tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah.
Selain lingkungan perkotaan, penelitian ini juga menyoroti dampak jangka panjang dari pandemi COVID-19 terhadap kondisi psikologis masyarakat. Sebanyak 44 persen responden menyatakan bahwa pandemi tersebut memperparah rasa kesepian, sementara 48,2 persen lainnya melaporkan peningkatan rasa terisolasi dari lingkungan sosial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDr. Azeem Majeed dari National Health Service menjelaskan bahwa kesepian memberikan dampak buruk nyata terhadap kesehatan mental dan fisik pasien. Kondisi ini berkontribusi memicu masalah kesehatan serius seperti kecemasan, depresi, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.
Kesepian Jadi Masalah Kesehatan Publik Serius
Austen El-Osta selaku peneliti utama studi INTERACT menegaskan bahwa kesepian bukan sekadar pengalaman privat, melainkan isu kesehatan publik dan komunitas yang krusial. Temuan ini membuktikan bahwa lingkungan sekitar dan jaringan sosial memegang peranan besar dalam membentuk kesejahteraan mental individu.
Dalam riset tersebut juga terungkap bahwa status hubungan asmara tidak terlalu memengaruhi tingkat kesepian seseorang. Sebanyak 45 persen responden yang sudah menikah atau terikat kemitraan sipil tetap melaporkan mengalami perasaan terisolasi yang serupa dengan kelompok lajang.
Tim peneliti merekomendasikan agar pemeriksaan kesepian mulai diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan rutin untuk mendukung kesehatan masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat koneksi antarwarga dan mencegah dampak buruk isolasi sosial di masa depan.
Meskipun memiliki keterbatasan seperti dominasi responden berpendidikan tinggi, studi ini menjadi salah satu riset kesehatan mental terbesar di satu negara. Para ahli berharap temuan ini mendorong pemerintah merancang kebijakan berbasis komunitas untuk mengatasi masalah kesepian.