Dampak musim kemarau panjang mulai dirasakan secara langsung oleh para buruh bongkar muat di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur. Surutnya debit air Sungai Mahakam membuat aktivitas pelayaran kapal pengangkut barang dan penumpang ke wilayah hulu lumpuh total.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Kompas.com, kapal-kapal yang biasanya rutin melayani rute ke Kutai Barat hingga Mahakam Ulu kini tidak bisa beroperasi secara normal karena alur sungai yang semakin dangkal dan membahayakan keselamatan.
Salah seorang buruh dermaga bernama Supardi mengungkapkan bahwa kelumpuhan jalur pelayaran ini sudah berlangsung lebih dari dua pekan. Jika dalam kondisi normal kapal bisa berangkat setiap hari, kini hanya tersisa satu kapal yang beroperasi dalam sepekan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Kalau kapal yang sudah tidak beroperasi seperti biasa itu sudah dua minggu lebih. Tujuannya ke Ujung Pandang, ke daerah Long Bagun. Nah, sekarang ini enggak bisa lagi di situ, enggak bisa lagi beroperasi," keluh Supardi saat ditemui pada Jumat (21/8/2026).
Akibat sepinya kapal yang datang, sistem kerja buruh yang mengandalkan giliran pun ikut terdampak parah. Para pekerja kini hanya bisa mendapatkan jatah bekerja selama dua pekan sekali, membuat pendapatan harian mereka merosot tajam.
Dalam kondisi normal, seorang buruh bisa mengantongi penghasilan sekitar seratus ribu rupiah per hari, namun kini uang tersebut hanya didapatkan sekali dalam dua minggu. Situasi ekonomi yang sulit ini memaksa para buruh untuk mencari jalan pintas demi bertahan hidup.
"Pusing sudah kepalanya ini, bagaimana. Cara menyiasatinya itu kayaknya susah betul. Kalau makan ya ngutang. Ngutang dulu," tambahnya menggambarkan beratnya beban hidup di tengah darurat kemarau Sungai Mahakam.