Selebriti televisi asal Spanyol, Tania Llasera, baru-baru ini menjadi sorotan tajam setelah memutuskan menghapus video kontroversial dari akun media sosialnya. Dalam video tersebut, Llasera sempat mengungkapkan rasa empatinya terhadap Lindsay Clancy, seorang perawat asal Amerika Serikat yang didakwa melakukan pembunuhan terhadap ketiga anaknya pada tahun 2023.
Kasus yang kembali mencuat seiring dimulainya persidangan ini menuduh Clancy mencekik anak-anaknya yang berusia 5 tahun, 3 tahun, dan bayi 8 bulan menggunakan alat kebugaran sebelum mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Pihak pembela mengklaim Clancy menderita psikosis posparto berat serta kurang mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya.
Dalam video yang kini telah dihapus, Llasera berpendapat bahwa tindakan tersebut dipicu oleh rasa putus asa yang luar biasa. Menurut laporan media, ia sempat melontarkan pernyataan yang memicu kemarahan publik, "Empatizo con una mujer que se ha cargado presuntamente a sus tres hijos" atau saya berempati kepada seorang wanita yang diduga telah menghabisi nyawa ketiga anaknya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLlasera juga sempat mengkritik suami Clancy dengan menyebutnya kurang memberikan dukungan selama proses pengasuhan anak. Namun, opini tersebut justru memicu gelombang kritik keras dari pengikutnya karena dianggap membenarkan tindakan kejam terhadap anak-anak yang tak berdosa.
Menyadari kesalahannya, Llasera akhirnya mengambil langkah untuk menghapus konten tersebut. Ia memberikan klarifikasi bahwa berempati bukan berarti membenarkan tindakan kriminal yang dilakukan. "Al igual que a muchos, me cuesta entender incluso mi propia empatía hacia una mujer presuntamente responsable de algo tan terrible", ungkapnya dalam pernyataan susulan.
Lebih lanjut, Llasera menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk membela aksi kekerasan, melainkan mencoba memahami beban berat yang dirasakan banyak ibu. "Condeno profundamente cualquier daño a víctimas inocentes. Intentar comprender el sufrimiento, la desesperación o la oscuridad en la que pudo encontrarse no borra el daño", tambahnya sebagaimana dikutip dari laporan 20 Minutos.