Fenomena penggunaan kamera digital saku atau digicam era 2000-an kini marak terlihat di berbagai tempat seperti kafe, konser musik, hingga acara keluarga. Tren ini tidak hanya digandrungi oleh anak-anak, tetapi juga merambah ke kelompok usia Gen Z dan milenial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Produsen kamera Camp Snap yang awalnya merancang kamera tanpa layar untuk anak-anak di perkemahan musim panas mengaku terkejut dengan tingginya permintaan dari kalangan dewasa. Presiden Camp Snap, Trevor George, mengungkapkan bahwa penjualan produknya meningkat lebih dari dua kali lipat dalam sembilan bulan terakhir.
Lonjakan permintaan juga dirasakan oleh produsen kamera ternama Canon. Pihak Canon menyatakan bahwa penjualan lini kamera saku PowerShot mengalami peningkatan hingga hampir tujuh kali lipat jika dibandingkan dengan periode beberapa tahun sebelumnya.
Hasil foto dari kamera digital lawas ini memiliki ciri khas tersendiri dengan efek sedikit buram, зерно atau grain, serta kilauan lampu kilat yang memberikan nuansa nostalgia. Banyak anak muda menilai estetika foto ini terasa lebih hangat dan alami dibandingkan dengan hasil foto kamera smartphone yang terlalu tajam.
Selain masalah estetika, penggunaan digicam juga menjadi bagian dari gerakan mengurangi ketergantungan pada smartphone. Banyak pengguna merasa lebih nyaman mengambil foto tanpa harus terdistraksi oleh notifikasi pesan atau surat elektronik yang muncul di ponsel mereka.
Tren ini turut memengaruhi industri fotografi acara seperti pernikahan. Banyak pasangan kini meminta dokumentasi video menggunakan camcorder bergaya lama untuk mendapatkan nuansa video rumahan yang autentik, meskipun rekaman tetap diambil dalam format vertikal agar ramah media sosial.