Survei McAfee tahun 2026 mencatat sebanyak 38 persen pelancong pernah menghadapi penipuan terkait perjalanan wisata. Teknologi kecerdasan buatan atau AI kini dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk memalsukan situs web serta pesan yang sangat meyakinkan, sehingga sulit dibedakan dari layanan resmi.
Kepala Inovasi IdentityIQ Michael Scheumack menyebutkan bahwa AI tidak sekadar membuat aksi penipuan semakin dipercaya, melainkan turut mempermudah pemalsuan rasa percaya publik. Sekitar 33 persen responden mengakui mereka mengabaikan tanda bahaya penipuan demi menghindari kehilangan penawaran harga menarik, sementara 41 persen dari korban yang terjebak mengalami kerugian finansial.
Manajer Umum platform pencegahan penipuan Signifyd Nikhita Hyett menjelaskan para pelaku kejahatan sering mengandalkan manipulasi rasa darurat agar korban mengabaikan logika mereka. Penjahat sengaja menciptakan tekanan waktu agar pelancong mengambil keputusan cepat tanpa sempat memverifikasi kebenaran informasi yang diterima.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePakar keamanan merangkum lima modus penipuan wisata paling umum yang kerap menipu pelancong teliti. Mengenali berbagai tanda bahaya ini dapat membantu wisatawan menghindari kerugian besar selama merencanakan maupun menjalani liburan.
Daftar 5 Modus Penipuan Wisata Paling Sering Terjadi
Modus pertama melibatkan layanan pelanggan maskapai dan hotel palsu di mesin pencari internet. Pelaku membeli ruang iklan berbayar dengan menyamarkan nomor kontak tiruan, sehingga korban yang menelepon langsung tersambung ke pusat panggilan penipu tanpa rasa curiga.
Modus kedua berkaitan dengan situs pemesanan palsu dan penyewaan akomodasi kloningan yang menggunakan foto properti asli. Berkat bantuan AI, situs-situs tiruan tersebut kini tampil sempurna tanpa kesalahan tata bahasa yang lazim ditemukan pada penipuan konvensional.
Modus ketiga adalah pengelabuan lewat QR code atau quishing, di mana penempelan stiker palsu menutupi kode asli di fasilitas publik seperti meteran parkir. Modus keempat menyasar pembajakan akun loyalitas maskapai dan hotel yang menyimpan data identitas serta kartu pembayaran korban.
Modus kelima terjadi di lokasi tujuan wisata melalui penyamaran staf hotel, sopir taksi ilegal, serta operator tur palsu. Pelancong disarankan selalu menggunakan kartu kredit atau dompet seluler serta menghindari metode pembayaran transfer kawat guna meminimalkan risiko.