Banyak organisasi dan perusahaan kini mulai menghadapi pola masalah klasik saat mengadopsi teknologi baru. Ketika kecerdasan buatan atau AI agent diadopsi dengan cepat tanpa diimbangi sistem tata kelola yang memadai, tim keuangan berisiko terkejut melihat lonjakan tagihan yang sangat besar di kemudian hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Fenomena ini mulai terlihat dari laporan mengenai karyawan Amazon yang melakukan "tokenmaxxing" atau memanipulasi metrik AI internal demi mendongkrak angka adopsi. Laporan AWS bertajuk Banking on the Cloud 2026 memang menunjukkan potensi besar AI agent dalam mempercepat pengambilan keputusan di sektor keuangan, namun efisiensi tersebut menyimpan potensi pembengkakan biaya operasional yang tak terduga.
Berbeda dengan perangkat lunak konvensional yang menggunakan sistem lisensi harga tetap, AI agent bekerja secara terus-menerus dan otonom. Setiap langkah dan pemanggilan layanan eksternal oleh AI agent mengonsumsi sumber daya secara langsung, sehingga biayanya dapat melonjak sangat cepat dan sulit diprediksi tanpa adanya tanggal pembaruan kontrak yang pasti.
Selain masalah anggaran, penggunaan AI agent juga menghadirkan risiko regulasi, khususnya di sektor keuangan yang bergantung pada data pihak ketiga. Dengan berlakunya kewajiban penuh EU AI Act pada Agustus 2026 serta berjalannya audit DORA, regulator kini makin ketat menuntut kejelasan rantai tanggung jawab atas penggunaan teknologi tersebut.
Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan diimbau untuk membangun sistem pengawasan biaya yang terintegrasi langsung ke dalam infrastruktur sejak hari pertama. Langkah penentuan pemilik anggaran dan transparansi antara tim teknis serta tim keuangan menjadi kunci utama agar investasi AI dapat dipertanggungjawabkan di hadapan dewan direksi maupun regulator.