Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat atau SEC tetap bergeming di tengah gelombang kritik publik terkait wacana pelonggaran aturan pelaporan emiten di bursa saham. Ketua SEC Paul Atkins dengan tegas membela usulan kontroversial yang memperbolehkan perusahaan publik untuk melaporkan kinerja keuangan mereka hanya dua kali dalam setahun.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Wacana ini memicu reaksi keras dari berbagai kalangan pelaku pasar modal global. Berdasarkan data pemantauan, SEC tercatat menerima hingga 200.000 surat masukan publik, di mana sekitar 99,5 persen di antaranya secara tegas menolak rencana perubahan regulasi tersebut karena dinilai berisiko menurunkan transparansi.
Menanggapi polemik yang terjadi, Paul Atkins berdalih bahwa aturan laporan triwulanan yang berlaku saat ini bersifat kaku dan tidak adil bagi seluruh jenis emiten. Ia memberikan contoh perusahaan bioteknologi rintisan yang belum memiliki pendapatan dan harus menunggu persetujuan badan pengawas obat dan makanan, namun tetap diwajibkan menyusun laporan triwulanan secara rutin.
"Ketika orang bilang ini bisa menjadi kurang transparan atau semacamnya, kita harus melihat bahwa saat ini kita menerapkan aturan satu ukuran untuk semua," ujar Atkins memberikan pembelaan terkait fleksibilitas pelaporan bagi perusahaan.
Atkins menambahkan bahwa opsi pelaporan semiannual atau dua kali setahun ini justru dirancang agar lebih bertanggung jawab terhadap beban operasional perusahaan serta kondisi investor. Menurutnya, aturan baru ini tidak serta-merta menghapus transparansi karena perusahaan tetap memiliki keleluasaan untuk menyampaikan informasi secara berkala.
Di sisi lain, para penentang regulasi ini khawatir bahwa peralihan ke laporan semiannual akan membuka celah bagi manajemen perusahaan untuk menyembunyikan masalah keuangan. Selain itu, kebijakan tersebut juga dituding berpotensi memicu aksi perdagangan orang dalam atau insider trading serta merugikan investor ritel.
Menjawab berbagai kekhawatiran tersebut, Atkins menilai sebagian besar penolakan yang masuk didasari oleh kesalahpahaman terhadap esensi dari usulan kebijakan itu sendiri. Ia menegaskan bahwa aturan tersebut tidak melarang laporan triwulanan, melainkan sekadar memberikan opsi pilihan tambahan bagi perusahaan.
"Proposal ini memberikan opsi kepada perusahaan untuk melakukannya secara semiannual, dan jika tidak ingin membuat laporan penuh, mereka tetap bisa mengungkapkan laba triwulanan, mengadakan panggilan pendapatan, atau memberikan panduan," jelas Atkins.
Meskipun menghadapi penolakan masif dari manajer aset dan kelompok advokasi investor, komposisi internal komisi yang saat ini diisi oleh tiga komisioner dari Partai Republik membuat peluang pengesahan usulan kebijakan tersebut dinilai sangat besar.