Sebagaimana diwartakan oleh media CNN Türk, pergerakan harga Bitcoin kembali mengalami tekanan jual yang cukup signifikan setelah sempat mencatatkan tren penguatan yang kuat pada pekan sebelumnya. Aset kripto paling populer di dunia tersebut gagal mempertahankan level tertingginya harian dan terkoreksi tajam akibat perubahan arah ekspektasi kebijakan moneter global.
Berdasarkan laporan media tersebut, harga Bitcoin sempat menyentuh level 81.330 dolar sebelum akhirnya berbalik arah dan merosot sekitar 3,4 persen ke kisaran 77.494 dolar. Penurunan drastis ini sekaligus memangkas sebagian besar momentum kenaikan 22,2 persen yang sempat dicatatkan oleh mata uang kripto tersebut pada pekan sebelumnya.
Menurut analisis pasar yang dikutip dari pemberitaan, tekanan jual yang masif ini dipicu oleh pidato pejabat tinggi Fed, Kevin Warsh, dalam acara Jackson Hole Ekonomi Politikası Sempozyumu. Dalam kesempatan tersebut, Warsh menyampaikan pandangan yang dinilai sangat ketat atau hawkish terkait kondisi inflasi di Amerika Serikat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, Warsh menegaskan bahwa belum terlihat adanya perbaikan yang signifikan pada tren dasar inflasi di Negeri Paman Sam, sehingga fokus bank sentral harus tetap diarahkan pada stabilitas harga. Pernyataan tersebut langsung mengubah proyeksi para pelaku pasar terhadap langkah lanjutan yang akan diambil oleh bank sentral Amerika Serikat.
Mengutip data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 baz puan pada pertemuan bulan September mendatang melonjak tajam melampaui angka 59 persen, dari posisi sebelumnya yang hanya berada di kisaran 35 persen. Lonjakan ekspektasi suku bunga ini turut memperkuat posisi dolar Amerika Serikat dan memperberat beban bagi pasar aset kripto secara keseluruhan.