Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Harga Bitcoin Tertekan Risiko Suku...
EKONOMI

Harga Bitcoin Tertekan Risiko Suku Bunga The Fed dan Lonjakan Minyak

By Asep Firdaus 2 min read 1 September 2026
Harga Bitcoin menghadapi risiko dari kebijakan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak

Harga Bitcoin menghadapi risiko dari kebijakan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak

Harga Bitcoin menghadapi risiko baru dari kebijakan The Fed setelah para pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada September melonjak hingga melampaui 50 persen. Ekspektasi pasar tersebut berbalik drastis setelah sebelumnya memperkirakan kebijakan moneternya akan tetap dipertahankan tidak berubah.

Berdasarkan data CME FedWatch per 31 Agustus 2026, peluang kenaikan suku bunga pada September tercatat berada di kisaran 57 hingga 58 persen. Reuters melaporkan bahwa probabilitas tersebut melonjak tajam dari 35,4 persen menjadi 55,7 persen menyusul pidato hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole.

Bitcoin sempat mengalami koreksi sekitar 3 persen hingga turun di bawah level 77.000 dolar AS pasca pernyataan Warsh sebelum akhirnya berangsur pulih mendekati 78.000 dolar AS. Penurunan tersebut terjadi menyusul reli bulanan sepanjang Agustus 2026 dari kisaran 63.000 dolar AS hingga menembus angka 80.000 dolar AS, yang membuat BTC mencatatkan kenaikan sekitar 23 persen sepanjang bulan.

Meski demikian, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak secara tegas menjanjikan kepastian kenaikan suku bunga pada September, namun asesmen inflasinya dinilai sulit diabaikan oleh pasar aset berisiko. Warsh menyampaikan bahwa tingkat inflasi PCE tahunan masih bertahan di angka 3,7 persen, sementara tingkat inflasi dalam enam bulan terakhir berjalan di level 4,1 persen dengan lebih dari separuh barang dan jasa dalam keranjang PCE mengalami kenaikan lebih dari 3 persen sepanjang tahun lalu.

Dampak Lonjakan Minyak dan Respons Pasar

Tekanan eksternal bagi pasar kripto juga diperparah oleh dinamika pasar energi global setelah minyak mentah Brent melonjak hingga mendekati 91,25 dolar AS per barel, sementara WTI menyentuh kisaran 86,36 dolar AS akibat eskalasi konflik di dekat Selat Hormuz. Tekanan tersebut semakin membebani karena cadangan minyak strategis Amerika Serikat telah merosot ke posisi 289,7 juta barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus, yang merupakan level terendah sejak November 1982.

Analis David menilai bahwa kurva berjangka untuk WTI dan Brent menunjukkan pasar fisik yang jauh lebih ketat daripada harga minyak secara nominal. Lonjakan harga minyak berpotensi menjaga kebijakan The Fed tetap ketat dalam durasi lebih lama, yang pada gilirannya memberikan tekanan jangka pendek terhadap pergerakan harga Bitcoin di pasar.

Di sisi lain, data frekuensi perdagangan spot dari CryptoQuant menunjukkan minimnya aksi pembelian ritel skala besar di sekitar titik terendah Bitcoin terbaru, berbeda jauh dengan kondisi pasar pada tahun 2022 ketika lonjakan aktivitas ritel terjadi secara berulang saat harga terus merosot. Analis CryptoQuant bernama Ardi berpendapat bahwa kondisi absennya investor ritel yang terjebak di posisi bawah justru menyisakan kelompok pembeli potensial di pinggir lapangan yang dapat mendorong reli berikutnya.

Ujian terdekat bagi pergerakan harga Bitcoin akan sangat bergantung pada rilis data penggajian tenaga kerja Amerika Serikat serta data inflasi resmi yang dijadwalkan terbit pada 11 September 2026. Pasar diprediksi memerlukan laporan ketenagakerjaan yang jauh lebih lemah untuk meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang kini tengah gencar diperhitungkan oleh para trader.

Topics
bitcoin the fed suku bunga inflasi minyak brent crypto kevin warsh pasar keuangan ekonomi global kripto
Jurnalis Ekonomi & Bisnis

Asep Firdaus adalah jurnalis yang mengkhususkan diri dalam bidang ekonomi dan bisnis. Ia memiliki pemahaman yang baik tentang dinamika pasar, kebijakan ekonomi, dan perkembangan industri, serta mampu menyajikannya dengan bahasa yang jelas dan mudah dicerna.