Pasar kecerdasan buatan (AI) dinilai tidak sedang berada dalam satu gelembung ekonomi tunggal, melainkan mengalami serangkaian gelembung beruntun yang terus bergeser dari satu sektor ke sektor lainnya. Pandangan tersebut diungkapkan oleh mantan kepala strategi Counterpoint di BCA Research, Dhaval Joshi, yang menyoroti bagaimana investor terus menyesuaikan diri terhadap pihak yang benar-benar mampu menangkap nilai dari teknologi AI.
Menurut Joshi, dinamika ini menjelaskan volatilitas ekstrem yang sempat melanda berbagai instrumen, mulai dari kejatuhan saham perangkat lunak hingga lonjakan harga komoditas perak yang sempat melonjak hingga tiga kali lipat. Pergerakan harga yang masif dan cepat dalam hitungan minggu tersebut menunjukkan adanya penularan narasi pasar ketimbang sekadar penilaian ulang fundamental yang wajar.
Selain sektor teknologi dan logam, perdebatan mengenai belanja modal atau capex raksasa teknologi seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, dan Oracle juga turut menjadi sorotan. Data menunjukkan bahwa belanja modal perusahaan-perusahaan tersebut melonjak drastis, memicu pertanyaan apakah pengeluaran masif ini rasional atau justru berisiko memicu tekanan margin laba di masa mendatang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati demikian, sifat siklus reinflasi yang bergulir ini dinilai mampu mencegah terjadinya aksi jual massal yang berkorelasi secara serentak di pasar keuangan. Namun, para analis tetap mewaspadai sejumlah faktor risiko eksternal yang dapat meruntuhkan pola tersebut, seperti kenaikan suku bunga riil, pembalikan siklus capex yang tajam, atau potensi resesi ekonomi.
Tiga Skenario Masa Depan Teknologi AI di Pasar Global
Di balik pergerakan gelembung beruntun tersebut, pertanyaan mendasar yang belum terjawab adalah siapa pihak yang pada akhirnya akan meraup keuntungan terbesar dari teknologi serbaguna seperti AI. Joshi memetakan tiga skenario potensial mengenai bagaimana nilai ekonomi dari teknologi masa depan ini akan didistribusikan secara global.
Skenario pertama berkaca pada model web 2.0, di mana korporasi raksasa dengan parit pelindung bisnis yang kuat seperti Amazon di e-commerce atau Google dalam mesin pencari mendominasi pasar berkat efek jaringan. Skenario kedua melibatkan individu super, di mana para profesional papan atas memanfaatkan AI untuk memangkas biaya staf sembari mempertahankan kualitas keluaran premium.
Adapun skenario ketiga adalah persaingan masif yang begitu ketat sehingga tidak ada satupun pelaku usaha yang mampu mempertahankan margin keuntungan yang tinggi, di mana konsumen umum justru keluar sebagai pemenang utama akibat kejatuhan harga. Fenomena ini mencerminkan dinding modal raksasa yang terus mencari pelabuhan baru setelah menguji berbagai sektor satu per satu.
Sebagai catatan, fenomena pergerakan harga ekstrem juga merembet ke aset-aset tak terduga, seperti chip memori lama DDR3 RAM yang melonjak hingga 600 persen dalam waktu kurang dari satu tahun. Para investor kini dihadapkan pada tantangan besar untuk terus mencermati narasi apa yang selanjutnya akan mengalami inflasi harga di tengah ketidakpastian pasar global.