Saham perusahaan infrastruktur blockchain, Coinbase (NASDAQ:COIN), mencatatkan penurunan sebesar 2,1 persen ke posisi 150,63 dolar AS pada perdagangan hari ini. Pergerakan negatif ini terjadi setelah sempat merosot 3,1 persen di sesi pagi akibat sentimen pasar kripto secara luas.
Tekanan jual pada saham Coinbase dipicu oleh kebijakan moneter hawkish dari Bank of Japan yang berencana menaikkan suku bunga. Kebijakan tersebut membuat investor cenderung menghindari aset berisiko di pasar global.
Situasi semakin rumit dengan adanya eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian geopolitik ini berdampak langsung pada pelemahan Bitcoin yang sempat menguji level harga 62.000 dolar AS.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeData menunjukkan adanya tekanan signifikan pada pasar kripto, termasuk arus keluar dana dari Bitcoin ETF sebesar 131 juta dolar AS pada 13 Agustus. Sentimen negatif bertambah saat SEC membatalkan rapat terbuka karena masalah penjadwalan yang tidak terduga.
Tren Performa Coinbase Sepanjang 2026
Walaupun volatilitas cukup tinggi, pelaku pasar menilai peristiwa ini sebagai respons teknis terhadap berita jangka pendek. Sepanjang tahun ini, saham Coinbase tercatat telah mengalami 53 pergerakan harga lebih dari 5 persen.
Kinerja saham Coinbase secara akumulatif mencatatkan penurunan sebesar 36,3 persen sejak awal tahun 2026. Harga saat ini berada 61,1 persen di bawah level tertinggi dalam 52 minggu terakhir, yakni 387,27 dolar AS pada Oktober 2025.
Sebelum penurunan ini, saham Coinbase sempat mengalami kenaikan 5,2 persen tujuh hari lalu. Kenaikan tersebut dipicu laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan kehilangan 23.000 pekerjaan, jauh di bawah prediksi kenaikan 80.000 pekerjaan.
Data tenaga kerja tersebut sempat memicu optimisme pasar bahwa Federal Reserve akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Logika pasar seringkali menganggap pelemahan ekonomi sebagai sinyal potensi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Namun, fluktuasi pasar saat ini menegaskan pentingnya kewaspadaan bagi investor di tengah ketidakpastian ekonomi makro. Analis mencatat, investasi jangka panjang pada sektor aset berisiko seperti kripto membutuhkan kajian fundamental mendalam di luar reaksi pasar harian.