Perlambatan ekonomi China berlanjut pada Juli 2026 di tengah tekanan konsumsi domestik dan ambisi besar pemerintah dalam mengembangkan sektor kecerdasan buatan atau AI. Kondisi tersebut memicu dilema bagi para pembuat kebijakan di Beijing karena harus menyeimbangkan antara pemulihan belanja rumah tangga dan dominasi model ekonomi berbasis produksi.
Berdasarkan data terbaru, penjualan ritel di China hanya tumbuh sebesar 0,6 persen pada Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan perlambatan lanjutan dari bulan Juni, sementara investasi aset tetap turun hampir 7 persen dalam tujuh bulan pertama tahun 2026 akibat krisis sektor properti yang masih berlanjut.
Di sisi lain, sektor manufaktur China tetap menunjukkan performa kuat dengan pertumbuhan output industri sebesar 4,5 persen pada Juli 2026. Pertumbuhan itu didorong oleh sektor manufaktur berteknologi tinggi yang melonjak hampir 14 persen, terutama ditopang oleh industri yang berkaitan dengan kecerdasan buatan dan teknologi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSenior Economist dari ABN Amro Arjen van Dijkhuizen mengungkapkan bahwa data Juli menunjukkan jurang pemisah semakin lebar antara kapasitas produksi dan tingkat konsumsi di China. Kondisi tersebut berpotensi memicu ketegangan dagang baru dengan mitra utama global akibat ketergantungan produk China terhadap pasar ekspor luar negeri.
Dampak Ambisi AI Terhadap Ketimpangan Ekonomi Global
Ambisi China dalam memimpin perlombaan kecerdasan buatan global dikhawatirkan justru semakin memperparah ketimpangan struktural ekonomi domestik. Peningkatan produktivitas industri berbasis teknologi tinggi tidak serta-merta mendongkrak daya beli masyarakat di dalam negeri yang masih tertahan.
Pemerintah Beijing sebenarnya telah memperpanjang berbagai langkah dukungan konsumen, termasuk subsidi melalui program tukar tambah kendaraan bermotor dan peralatan rumah tangga. Kendati demikian, langkah tersebut dinilai masih belum cukup untuk menambal kelemahan permintaan domestik secara menyeluruh tanpa adanya stimulus fiskal berskala besar.
Tekanan dari membanjirnya produk manufaktur China kini mulai dirasakan langsung oleh industri di berbagai negara, termasuk sektor otomotif di Eropa yang tengah menghadapi krisis. Kapasitas produksi masif yang tidak terserap di pasar lokal memaksa produsen China untuk mengandalkan pembeli asing secara agresif.
Para ekonom memperingatkan bahwa model ekspansi ekonomi yang sangat mengandalkan pasokan luar negeri pada akhirnya akan mencapai titik jenuh yang tidak berkelanjutan. Persaingan ketat antara kebutuhan pemulihan konsumsi lokal dan dominasi teknologi global akan menjadi ujian berat bagi perekonomian China sepanjang tahun 2026.