Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / 'Fiscal Dominance' dan Ancaman...
EKONOMI

'Fiscal Dominance' dan Ancaman Depresiasi Rupiah

By Bambang Prasetyo • 2 min read • 22 Juli 2026
Ilustrasi fiscal dominance dan dampaknya terhadap depresiasi Rupiah serta stabilitas moneter

Ilustrasi fiscal dominance dan dampaknya terhadap depresiasi Rupiah serta stabilitas moneter

Istilah fiscal dominance atau dominasi fiskal dalam kebijakan makroekonomi pertama kali dipopulerkan oleh penerima Nobel Ekonomi 2011, Thomas John Sargent. Dalam konsep tersebut, otoritas moneter ditegaskan tidak akan mampu mengontrol inflasi secara efektif tanpa adanya dukungan penuh dari otoritas fiskal. Kestabilan harga hanya dapat dicapai apabila publik percaya bahwa bank sentral mampu menjaga independensinya dari intervensi pemerintah.

Jika kepercayaan pelaku pasar terhadap independensi bank sentral melemah, publik akan mempersepsikan bahwa pemerintah menekan otoritas moneter untuk melonggarkan suku bunga demi menggenjot pertumbuhan ekonomi, meski harus mengorbankan stabilitas harga. Secara teori, ketika bank sentral menaikkan suku bunga, Surat Berharga Negara (SBN) menjadi lebih menarik dengan yield lebih tinggi. Hal ini memicu aliran modal masuk bersih (net capital inflow) yang menguatkan nilai tukar mata uang domestik.

Namun, fenomena sebaliknya pernah terjadi di Brasil pada 2002. Kenaikan suku bunga justru diartikan oleh pasar sebagai sinyal meningkatnya peluang gagal bayar utang pemerintah (probability of default). Alhasil, nilai tukar mata uang real Brasil terdepresiasi tajam. Seperti yang dipaparkan Blanchard (2004), lonjakan inflasi dan suku bunga yang memicu depresiasi mata uang pada akhirnya mendorong inflasi lebih tinggi melalui jalur imported inflation, sehingga kebijakan fiskal menjadi kunci utama untuk meredamnya.

Fenomena fiscal dominance ditandai oleh dominasi otoritas fiskal yang mendikte bank sentral untuk mendukung agenda pemerintah, seperti mematok target pertumbuhan ekonomi tinggi lewat suku bunga rendah. Kasus Brasil pada 2002 sebelum era Presiden Inacio Lula da Silva menunjukkan bahwa dominasi fiskal menyebabkan rasio utang terhadap GDP membengkak, Debt Service Ratio (DSR) melonjak, serta peningkatan drastis pada Country Risk Premium (CRP) dan Credit Default Swap (CDS).

Kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang juga menganut sistem bank sentral independen dengan fokus menjaga stabilitas harga. Ketika dominasi fiskal terjadi, bank sentral berisiko enggan menaikkan suku bunga acuan saat inflasi tinggi hanya demi menjaga agar beban biaya utang pemerintah tidak makin membengkak, yang pada akhirnya mengancam stabilitas nilai tukar Rupiah.

Topics
fiscal dominance depresiasi rupiah bank indonesia kebijakan moneter ekonomi makro utang negara
Jurnalis Politik & Ekonomi Senior

Bambang telah menghabiskan dua dekade terakhir meliput dunia politik dan ekonomi Indonesia. Dari gedung DPR hingga Istana Negara, ia telah menyaksikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk negeri ini. Tulisannya tajam, mendalam, dan selalu mengedepankan fakta serta analisis yang jernih bagi pembaca Kabayan News.