Teori ekonomi Fisiokrasi berkembang pada abad ke-18 di Prancis melalui kelompok pemikir Pencerahan yang memandang sektor pertanian sebagai akar kemakmuran suatu bangsa. Menurut pengamatan Kabayan News, gagasan tersebut mendahului kemunculan sekolah ekonomi klasik modern yang dipelopori oleh Adam Smith melalui karya besarnya pada tahun 1776.
Para tokoh utama seperti François Quesnay, Marquis de Mirabeau, serta Anne-Robert-Jacques Turgot mendominasi mazhab ini dengan keyakinan bahwa kerja produktif di bidang pertanian adalah satu-satunya pencipta nilai ekonomi murni. Sebagaimana dilaporkan dalam catatan sejarah, kaum fisiokrat menentang sistem merkantilisme yang menitikberatkan kekayaan penguasa pada akumulasi logam mulia serta neraca perdagangan semata.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan analisis Kabayan News, François Quesnay merumuskan model peredaran kekayaan yang terinspirasi dari ilmu medis mengenai sirkulasi darah manusia. Ia menggambarkan bagaimana arus uang mengalir di antara kelas petani, pemilik tanah, dan pengrajin secara mekanis, di mana hanya sektor pertanian yang menghasilkan surplus nyata bagi negara.
Pengaruh pemikiran Fisiokrasi juga bersumber dari sistem ekonomi Tiongkok kuno serta masyarakat agraris Eropa masa lampau yang menghargai tinggi kaum petani. Konsep perdagangan bebas atau laissez-faire yang diusung mazhab ini bahkan mengadopsi prinsip Taoisme Tiongkok tentang keteraturan alamiah.
Meskipun era kejayaannya telah berlalu, warisan teori Fisiokrasi memberikan landasan penting bagi perkembangan ilmu ekonomi modern, termasuk konsep perpajakan tanah dan sirkulasi kekayaan nasional yang kemudian memengaruhi banyak ekonom dunia.