Ekonomi London menghadapi ancaman kemerosotan serius yang menuntut perhatian cepat dari Perdana Menteri Inggris Andy Burnham di tengah fokus pemerintah pada wilayah utara. Berdasarkan laporan MoneyWeek, ibu kota Inggris tersebut menunjukkan tanda-tanda pelemahan ekonomi nyata setelah bertahun-tahun menjadi motor penggerak finansial negara.
Berdasarkan data Office for National Statistics, populasi London mencatatkan penurunan untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir. Sebanyak lebih dari 400.000 penduduk meninggalkan ibu kota pada tahun lalu, menciptakan arus keluar bersih mencapai 130.000 jiwa meskipun ada pendatang baru yang masuk.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAngka tersebut mencakup hengkangnya kaum elit non-dom yang selama ini menopang industri jasa keuangan, hukum, dan manajemen kekayaan lokal. Kepergian para wajib pajak kaya ini memberikan hantaman telak bagi sektor layanan penunjang ekonomi kelas atas.
Kondisi sektor properti turut memperburuk situasi dengan terjadinya koreksi harga cukup tajam di berbagai kawasan elit. Nilai properti di Westminster dilaporkan merosot hingga 23 persen dalam setahun terakhir, disusul penurunan signifikan di Kensington dan Chelsea serta Hammersmith dan Fulham.
Sektor ritel mewah tidak luput dari hantaman krisis setelah department store ikonis Harvey Nichols mengalami kerugian berkelanjutan hingga harus dijual oleh pemiliknya. Perubahan peta kepemilikan ritel papan atas ini mencerminkan merosotnya nilai komersial kawasan bergengsi Knightsbridge.
Peranan London sebagai motor penggerak ekonomi nasional sangat vital karena menyumbang lebih dari seperlima output ekonomi Inggris dengan tingkat produktivitas pekerja jauh di atas rata-rata nasional. Analisis MoneyWeek menilai kegagalan memulihkan kondisi ibu kota akan membawa dampak buruk bagi perekonomian secara keseluruhan.