Krisis sterling 1976 mengguncang perekonomian Britania Raya sebagai akibat dari kombinasi inflasi mendekati 25 persen, defisit neraca pembayaran, dan defisit anggaran publik. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, gelombang tekanan ekonomi tersebut juga diperparah oleh dampak lanjutan dari krisis minyak global tahun 1973.
Akar permasalahan krisis ini ditengarai bersumber dari kebijakan anggaran ekonomi Partai Konservatif pada tahun 1972 yang memicu siklus inflasi jangka panjang. Dari analisis Kabayan News, kebijakan ekspansif tersebut melahirkan spiral upah dan harga serta depresiasi mata uang yang berujung pada kejatuhan nilai tukar poundsterling secara drastis.
Pemerintahan Perdana Menteri James Callaghan dari Partai Labour terpaksa mengajukan pinjaman masif senilai 3,9 miliar dolar Amerika Serikat kepada International Monetary Fund guna menstabilkan nilai tukar mata uang. Sebagaimana dilaporkan, pinjaman luar negeri tersebut merupakan nominal terbesar yang pernah diminta dari lembaga keuangan internasional itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun bantuan dana tersebut berhasil menyelamatkan perekonomian dari kehancuran total, kebijakan pemotongan anggaran yang menyertainya memicu perpecahan internal di tubuh Partai Labour. Berdasarkan catatan sejarah, gejolak ekonomi berkepanjangan ini turut membuka jalan bagi kemenangan kubu Konservatif di bawah kepemimpinan Margaret Thatcher pada pemilihan umum tahun 1979.