Proses disrupsi teknologi kecerdasan buatan dalam industri kreatif memicu kecemasan mendalam bagi para musisi di wilayah Manitoba, Kanada. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, gelombang perilisan karya instan berbasis algoritma kini mulai mengancam eksistensi musisi tradisional dan nilai estetika seni murni.
Jacob Herd, seorang musisi sekaligus pendidik asal Winnipeg, menilai bahwa teknologi tersebut justru membawa dampak buruk bagi fondasi industri kreatif. Menurut laporan dari Winnipeg, Herd menyebut unsur sentuhan manusia dalam karya kini semakin tergerus oleh sistem otomatisasi.
"Banyak orang mengeklaim bahwa AI membuat musik lebih mudah diakses, tetapi justru membawa industri ini ke jurang kehancuran," ujar Herd sebagaimana dilaporkan oleh media setempat pada Rabu (19/8). Ia menambahkan bahwa kecepatan produksi karya buatan sistem digital membuat musisi manusia kesulitan bersaing secara finansial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSenada dengan hal tersebut, musisi sekaligus podcaster Joel Emerson mengungkapkan bahwa maraknya lagu berbasis kecerdasan buatan menurunkan minat masyarakat terhadap pertunjukan langsung. Berdasarkan analisis Kabayan News, persaingan tidak sehat ini terjadi karena seniman digital mampu merilis puluhan lagu dalam setahun tanpa proses produksi panggung.
Pemerintah federal Kanada melalui Menteri Inovasi Digital menyatakan komitmennya untuk mendengarkan aspirasi para seniman di tengah perdebatan regulasi hak cipta. Sementara itu, para pakar teknologi dari University of Manitoba menyarankan penerapan label khusus atau tanda air pada setiap produk audio digital agar asal-usul karya tetap transparan bagi penikmat musik.